Sempurna ....... Allahu akbar!


Saya salut dengan plot cerita novel ini,

Bang Andrea jago banget menggiring pembacanya....ada cerita lucu, krikit kemasyarakat, cerita keadaan penduduk P. Balitong... Kondisi da status masyarakat P. Balitong... masalah transportasi Di Indonesia....

Pokoknya banyak sekali masalah yg dibahas di sini. dan cerdiknya, masalah2 tersebut di bahas dengan cara sangat elegan dan engga membosankan, menyentuh banget deh...

Novel in terdiri dari 74 bab, 504 Halaman.... memang sangat disayangkan Harganya 79.000 rb dengan kualitas kertas yg gampang baget menyerap air.... uhk bete banget dah..

Tapi, semuanya itu berbanding lurus dengan cerita yang disampaikan...Saya benar2 engga menyangka... Jalan cerita Ikal akan seperti itu....Pertemuannya dengan aling..... ahk... baca sendiri deh... mantep banget... dah.... kisah bocah2 laskar pelangi ketika beranjak dewasa...

Bagi saya engga rugi deh dengan harga segituh (walau kualitas kertas nya jelek baget)....di tambah lagi sebagian royalti tetralogi, buat pembangunan sekolah di P. Balitong....Yang penting : waspada aja dengan Laskar pelangi edisi bajakan, ketahuan dari kualitas cover dan teksnya yg engga terlalu jelas dan kertasnya itu loh uhk parah banget... tolong hati2 dalam membelinya... Saya berharap. Mudah2an Novel ini bisa dapet penghargaan Nobel. Sangat layak bagi saya.. dan mudah2an Bang Andrea Hirata, mau menulis novel lagi seperti Tetralogi laskar pelangi.


Saya tunggu karya2 beliau....


RAHASIAKUBERI TAHU SATU RAHASIA PADAMU KAWAN

BUAH PALING MANIS DARI BERANI BERMIMPI

ADALAH KEJADIAN-KEJADIAN MENAKJUBKAN

DALAM PERJALANAN MENGGAPAINYA


Andera Hirata

Kutunggu kau... MARYAMAH KARPOV


Ah.., setelah menunggu sekian waktu, novel terakhir tetralogi Laskar Pelangi ini akhirnya muncul juga. Kupahami karena momen sekarang ini memang bagus setelah susksesnya Film Laskar Pelangi.


Persis seperta Ikal janjikan bahwa di Novel terakhirnya dia akan menceritakan akhir babak para tokoh terdekatnya. Lintang, Mahar, Arai, dan tentu saja A Ling. Namun totally, aku menangkap sesuatu yang ganjil dari novel ini. Tidak penuh di Ikal memagang janji untuk mengisahkan para sahabat dan belaian hatinya itu. Malah sebagian besar dia bercerita tentang masyarakat di sekitar dia tinggal. Melayu, Hokian, Khek, Lanun.. dan hal-hal lainnya, serta beberapa bagian cerita yang seolah seperti bagian dari penebal novel itu saja.

Namun, tetap saja keindahan sihir kata-katanya membius setiap sorotan mataku membacanya. Amboi, cerdas nian kau buat karya ini Andrea Hirata… Setiap katanya menjadi sihir tersendiri yang dapat membangkitkan motivasi.

Terima kasih kawan, karyamu dengan setia menemaniku dalam perjalananku pergi dan pulang setelah kupenati otakku dengan rutinitas yang menjemukan itu… Semoga engkau hadirkan lagi karya-karya yang lain. Kutunggu…

Maryamah Karpov


Subhanallah….senangnya hatiku ..... Maryamah Karpov yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Langsung di order dari Toko Buku Gramedia Plaza Asia tasik lhoo……Wah ntar malem mesti tuntas dibaca, Insya Allah. Amien....
Dan inilah yang selalu aku tunggu usai menuntaskan karya-karya Andrea. Sebuah rasa yang teramat sulit aku gambarkan.

Biografi Imam Syafi'i

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.

NASAB BELIAU
Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada Abdu Manaf, sedangkan Al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib).

TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.

PERTUMBUHANNYA
Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang

KECERDASANNYA
Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.4. Beliau diberi wewenang berfatwa pada umur 15 tahun.Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Asy-Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.”
MENUTUT ILMU
Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.
GURU-GURU BELIAU
Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i4. Sufyan bin Uyainah5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:1. Malik bin Anas2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany3.Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya;1.Mutharrif bin Mazin2.Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.Dan di
Baghdad beliau mengambil ilmu dari:1.Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.2.Ismail bin Ulayah.3.Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.
MURID-MURID BELIAU
Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani3. Ishaq bin Rahawaih,4. Harmalah bin Yahya5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.
KARYA BELIAU
Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.
PUJIAN ULAMA
PARA ULAMA KEPADA BELIAU
Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,“Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).Begitulah keadaan para Imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam Asy-Syafi`i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.Qutaibah bin Sa`id berkata: “Asy-Syafi`i adalah seorang Imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats-Tsauri wafat maka hilanglah wara’, Imam Asy-Syafi`i wafat maka matilah Sunnah dan apa bila Imam Ahmad bin Hambal wafat maka nampaklah kebid`ahan.”Imam Asy-Syafi`i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirus Sunnah (pembela Sunnah Rasulullah).”Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Asy-Syafi`i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya -kemudian beliau menyebutkan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Malik, dan Abu Hanifah,- melainkan Imam Asy-Syafi`i adalah yang paling besar ittiba`nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, dan paling sedikit kesalahannya.”Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Asy-Syafi`i satu ucapanpun yang salah.”Ibrahim bin Abdul Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Asy-Syafi`i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Ruhawaih. Maka ia berkata, “Asy-Syafi`i adalah yang paling faqih di antara mereka.”
PRINSIP AQIDAH BELIAU
Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al-Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya maka dia kafir. Adapun jika belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Karena ilmu tentang Asma dan Sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran. “Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,“Tidak ada yang menyerupaiNya sesuatu pun, dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah kalamulah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”
PRINSIP DALAM FIQIH
Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”Beliau berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”
SIKAP IMAM ASY-SYAFI`I TERHADAP AHLUL KALAM
Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidak dikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.”Beliau bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.”Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.”
PESAN IMAM ASY-SYAFI`I“
Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”
WAFAT BELIAU
Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H dan umur beliau sekita 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam Asy-Syafi`i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”
KATA-KATA HIKMAH IMAM ASY-SYAFI`I“
Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.

Renungan Malam ini....

Dosa itu pasti terhitung,
sementara pahala masih harus menanti proses keridhoanNya untuk dihitung sebagai pahala.............!

Wilujeng Sumping

Halo..Assalamualaikum..Welcome.. Wilujeung Sumping...Herzlich Willkommen.. Ahlan Wasahlan.... Selamat Datang dan Selamat Melihat-lihat Site koe....Semoga Bermanfaat dan Bisa Berbagi Pengalaman Kehidupan...dan Cerita-cerita yg Unik ,Lucu dan Berkesan......

Laskar Pelangi... Laskar Pelangi


Buat temen-temen yang suka baca, gw mo kasih referensi buat kalian sebuah novel keren nih… Novel ini karya putra bangsa yang cukup berbakat. Walaupun novel ini adalah novel perdananya namun sang pengarang tampaknya cerdik dalam membidik pangsa pasarnya yang haus akan karya-karya cemerlang, baru dan segar. Buktinya novel ini termasuk kedalam daftar deretan novel-novel best seller. Yah.. siapa tau aja temen-temen blom baca novel ini, Judul novel ini tak lain adalah Laskar Pelangi, sebuah novel lokal yang unik dan sangat menarik untuk dibaca juga dikoleksi oleh teman-teman. Novel ini mengangkat kisah perjalanan hidup sang penulisnya yang bernama Andrea Hirata Seman pada saat menduduki awal bangku SD sampai dengan tamat bangku SMP. Novel memberikan gambaran kepada kita betapa tragisnya dunia pendidikan di Indonesia, khususnya didaerah-daerah terpencil yang jauh dari pusat kota. Novel ini juga sarat akan pesan moral yang menggugah hati.Oiyaa… karena menariknya novel ini, dikabarkan sempat dibahas khusus dalam acara Talk Show Kick Andy di saluran Metro TV. Sang Penulis beserta guru-gurunya di Sekolah Muhammadiyah sempat hadir dan diwawancarai. Sayangnya pada saat itu aq gak nonton, abis gak ada yang kasih tau sih :(ALUR CERITA SINGKAT Pada saat itu sang penulis akan diterima pada Sekolah Dasar Swasta dan mulai menjalani kehidupan bersekolah saat menduduki awal bangku SD sampai dengan tamat bangku SMP bersama dengan teman-teman sekelasnya yang hanya berjumlah 9 orang di Sekolah yang bernama SD Muhammadiyah. Karena jumlah siswanya yang terlalu sedikit, hampir-hampir sekolah ini ditutup lantaran jumlah muridnya dalam 1 kelas tidak memenuhi kuota yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan saat itu yaitu minimal 10 murid siswa per kelasnya. Di saat yang mendebar-debarkan akhirnya ada seorang calon murid terakhir yang akhirnya diterima sehingga mengenapi angka ganjil menjadi 10 murid siswa. Perkenalanpun dimulai diantara mereka dengan menyebutkan nama masing-masing di depan ruang kelas. Lambat laun mereka menjadi sebuah “tim” yang solid dan kompak, mereka saling tolong menolong apabila diantara mereka mendapatkan kesulitan. Mereka, Sang Penulis beserta teman-teman sekelasnya yang berjumlah 10 orang menyebut diri mereka Laskar Pelangi.Sekolah Muhammadiyah berada di pedalaman yang jauh dari pusat kota yang terletak di Pulau Belitong. Pulau Belitong bukanlah suatu pulau yang daratannya cocok untuk bertani dan bercocok tanam. Namun Pulau Belitong adalah pulau yang kaya akan kandungan timah. Sekolah dimana tempat mereka belajar, bukanlah sekolah elite dan mewah yang memiliki segala fasilitas pendukung pembelajaran seperti sekolah lainnya yang dideskripsikan di buku ini sebagai sekolah PN (Perusahaan Negara). Sekolah mereka hanya sebuah bangunan tua yang rapuh, reyot dan terbengkalai sehingga apabila kita melihatnya, maka sedikitpun tidak akan menumbuhkan minat untuk belajar pada sekolah ini, dengan kata lain sekolah ini biasa disebut dengan sekolah Kampung. Strata ekonomi orang tua mereka adalah berasal dari golongan tidak mampu. Rata-rata mata pencaharian orang tua mereka berasal dari profesi buruh tambang dan nelayan.Di Akhir penghujung cerita ini akan ada pendatang baru yang membuat kelompok mereka bertambah jumlahnya menjadi 11 orang. Seorang gadis tomboy dari keluarga kaya raya. Ayahnya adalah seorang berpendidikan tinggi dan memiliki pengaruh pada suatu perusahaan milik BUMN di Pulau Belitong. Sangat kontras bila membandingkannya dengan murid-murid Laskar Pelangi lainnya. Dengan kedatangan pendatangan baru yang bernama Flo pada akhir cerita ini, alur cerita semakin menarik dan petualangan kehidupan para Laskar Pelangi lebih banyak melewati cobaan, rintangan, tantangan, dan pertentangan yang pada saat membacanya akan membuat kita selalu penasaran seperti apa ujung dari akhir cerita ini.... Penasaran? buruan baca....!! atau mau melihat filmnya langsung!!

Menyambut Hari-harimu...

Waktu adalah Kehidupan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah memberikan nikmat Iman dan Islam kepada kita. Aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah. Tiada sekutu baginya. Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepadanya, kepada shahabat dan kepada kerabatnya.
Tak terasa. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, ternyata sudah tiba lagi di penghujung tahun.. Begitulah waktu. Ia berjalan sesuai dengan seperti mana seharusnya. Berlalu sesuai dengan tabiatnya yakni cepat terlewat tanpa terasa dan tidak pernah dapat kembali.
Imam Hasan al-Bashri pernah berkata, "Tidaklah sebuah hari itu berlalu kecuali setiap terbit matahari ada seruan: Hai anak cucu Adam, Aku adalah ciptaan yang baru, aku menjadi saksi atas perbuatanmu, maka berbekallah dariku, kerana sesungguhnya aku, jika telah berlalu, tidak akan kembali sampai datang hari kiamat nanti.
" Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna juga mengungkapkan, "Waktu adalah kehidupan. Kehidupan manusia adalah waktu yang dilaluinya dari mulai ia lahir sampai ia meninggal dunia". Kerana itu, menurut Yusuf Qaradhawi, mensia-siakan waktu, walau hanya seperseribu detik sekalipun, sama sama halnya dengan mensia-siakan kehidupan. Bagi seorang muslim sedetik saja ia tidak dapat memanfaatkan waktunya maka ia akan kehilangan sebahagian dari kehidupannya.
Ungkapan bijak itu masih senada dengan hikmah yang dilontarkan Imam Hasan al-Bashri ketika ia mengatakan, "Hai anak cucu adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan dari hari-harimu. Maka setiap kali hari itu berlalu maka berlalu juga sebahagianmu." Allah SWT dalam Al-Qur'an banyak bersumpah dengan waktu atau masa. Seperti, Demi masa dalam surat Al-'Ashr, Demi waktu fajar, Demi waktu Dhuha, Demi waktu malam dan lain-lain.
Sebuah sumpah yang dinisbatkan dengan sesuatu menunjukkan bahawa sesuatu itu sangat penting. Tentunya sumpah-sumpah Allah dalam Al-Quran di atas menunjukkan betapa pentingnya masalah waktu. Dengan cara itu, Allah secara mutlak atau tersirat memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperhatikan dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli tafsir (mufasirin), bahawa tujuan Allah swt. bersumpah dengan makhluknya, adalah agar mendapatkan perhatian tentang masalah tersebut dan ditadabburi manfaat apa yang akan dihasilkan darinya.
Rasulullah SAW pun menguatkan dengan bersabda: "Tidak akan lewat tapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, kecuali setelah ditanya empat perkara yakni tentang jatah umurnya yang ia habiskan di dunia, masa mudanya yang telah ia lewatkan, hartanya dari mana didapatkan dan bagaimana dikeluarkan, tentang ilmunya sejauhmana ia amalkan."(HR. Al-Bazzar dan At-Thabrani).
Dalam riwayat lain Nabi SAW bersabda: "Seorang yang memiliki akal sihat akan membahagi waktunya menjadi empat bahagian yakni waktu ketika ia bermunajat kepada Rabbnya, waktu ia mengenal/kaji diri (introspect), waktu mentafakkuri ciptaan Allah Swt, dan waktu ia makan dan minum." Seorang muslim sejati, ketika ia memulai harinya, akan membukanya dengan solat dan ketika ia mengakhirinya akan ia tutup dengan solat pula. Ia membukanya dengan solat subuh dan menutupnya dengan solat Isyak. Tidak ada sedikitpun waktunya terbuang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat kerana ia sedar waktu yang dilaluinya kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.
Kerananya umat Islam hendaknya janganlah mengikut seperti umat-umat yang lainnya, dimana jika merayakan hari ulang tahunnya, mereka melakukannya dengan hura-hura dan penuh hal-hal yang berlebihan yang sangat boros, apalagi ditambah dengan berbagai kemaksiatan.
Dengan bertambahnya tahun, secara angka usia seorang manusia memang bertambah. Tapi secara peruntukan umur, sebetulnya kesempatan hidupnya makin berkurang. Oleh kerana itu berkurang pula kesempatan yang dia miliki untuk mempersiapkan diri menghadap Allah kelak. Apakah akan dia gunakan untuk beribadah kepada Allah atau justru bermaksiat kepada-Nya. (lihat! Q. S. Al-Insyiqaq: 6).
Dengan demikian, pergantian tahun bagi seorang muslim merupakan momentum untuk bermuhasabah dan merencanakan masa depan selanjutnya layaknya seorang akuntan dalam sebuah perusahaan yang menghitung untung rugi perusahaannya selama satu tahun. Namun demikian bagi seorang muslim bermuhasabah tidak harus menunggu selama satu tahun kerana sesuai dengan unsure-unsur akidahnya ia akan berusaha untuk bermuhasabah setiap hari dan setiap saat. Umar bin Khattab berkata, "Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab." Bila telah datang waktu malam Umar RA selalu bertanya, "Apa yang telah aku kerjakan pada hari ini." Dan ia menjadikan kebiasaan itu sebagai muhasabah hariannya.
Tidak hanya memuhasabahi amalannya akan tetapi juga merencanakan masa depannya. Masa depan ini pun, bagi seorang muslim yang paling hakiki adalah kehidupan di akhirat.
Masa depan duniawi yang juga harus menjadi cita-citanya hanyalah perantara yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan akhirat. Dalam menyikapi waktu, Yusuf Qaradhawi menasihatkan tiga hal. Pertama, memandang masa lalu sebagai bahan kajidiri sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, kerana itu berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (Q. S. Ali Imran: 137) Kedua, merencanakan masa depan. Di antara cirri-ciri (characteristic) masa depan adalah ghaib dan terjadi dengan tiba-tiba walaupun orang-orang mengira kejadiannya akan terjadi beberapa tahun lagi. Firman Allah SWR, "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yag telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al Hasyr:18). Ketiga, lebih memaksimakan diri pada masa sekarang atau yang sedang terjadi, Rasulullah SAW bersabda: "Seandainya akan tiba hari kiamat dan di tangan kalian terdapat bibit korma, maka bila kamu sanggup sebelum datangnya kiamat untuk menanamnya maka tanamlah." Ertinya dalam beramal soleh setiap muslim harus maksima dalam melaksanakan pekerjaannya.
Ia juga harus sentiasa optimis kerana setiap amalnya itu akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah. Sekalipun menurut hitungan manusiawi hasil pekerjaannya akan hancur lantaran sebentar lagi akan datang kiamat, minima ia sudah mendapatkan kebaikan lantaran telah memanfaatkan waktu untuk berbuat baik.
Oleh kerana itu wahai kaum muslimin, marilah kita bersama-sama untuk merenungkan kehidupan ini, merenungkan usia kita masing-masing. Sudah siapkah bekal yang telah kita persiapkan untuk menghadapi kehidupan esok yang lebih cerah.
Semoga Allah sentiasa memberikan pertolongan kepada kita, untuk selalu ingat dan bersyukur kepadanya, amin. Sumber: Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia http://www.alislam.or.idTiDaK DiNaMaKaN HiDuP JiKa TiDaK aDa KeKuSuTaN. TiDaK DiNaMaKaN KeMaTaNgaN JiKa TiDaK aDa KeKaLuTaN.

Arti Kerjasama Team



Selama temanmu tidak melepas, kamu aman dah...

Sepeda Hantu....


Kisah anak-anak palestina

TIGA bocah itu mengemas tas mereka sepulang sekolah Selasa sore itu di distrik Sheikh Rudwan, di kota Gaza. Mereka beritahu orang tua kalau mereka akan pergi ke rumah teman, dan mereka merancang sebuah serangan ke satu pemukiman ilegal Yahudi di dekat Gaza.Senjata mereka hanyalah empat pisau, sebuah kampak dan bahan peledak rakitan yang masih kasar. Bahkan, mereka belum tahu jarak serangan bom itu, dan tentara Israel keburu menghajar bocah-bocah itu hingga tewas di tengah malam yang sepi. Tiga sekawan muda itu terkapar bersimbah darah sewaktu merangkak masuk menuju pemukiman. Too young too die?Apakah mereka korban atau pahlawan? Para remaja yang dalam usia internasional digolongkan masih anak-anak ini telah meniru orang yang lebih tua dari mereka dalam berjuang intifada. Mereka mencerminkan semangat pembalasan terhadap kebiadaban Israel di tanah mereka, yang setiap saat tampak di pelupuk mata.Ketiga anak itu ingin menyusup masuk pemukiman ilegal Netzarim yang dihuni warga Yahudi Israel. Ketiga bocah, Youssef Zaqout, Anwar Hamdouna dan Ismail Abu Nadi berjalan enam kilometer menuju pemukiman berpenduduk 6.000 Yahudi, tapi dijaga 10.000 tentara Israel.Ribuan rakyat Palestina mengantar ketiga pahlawan muda itu ke satu pemakaman di Kota Gaza. Bocah-bocah itu tewas dalam misi martir mereka, namun mereka telah mantap menyambut kematian syahid itu. Mereka tinggalkan catatan kepada keluarga dengan mengabarkan mereka mencari “mati syahid” dan meminta maaf.Dalam pesan perpisahan, Zaqout menulis kepada ibunya: “Oh Ummi, berbahagialah bersamaku. Aku minta anda berdoa kepada Allah semoga operasi syuhadaku sukses. Aku persembahkan jiwaku karena Allah dan tanah air.”Lalu Abu Naid menulis, “Ayah, Ibu, maafkan aku. Aku akan melaksanakan operasi syuhada terhadap satu pemukiman.”Ketika ditanya apakah ia paham dengan motif anaknya Zaqout, sang ibu menjawab,” Anak-anak disiksa oleh apa yang mereka lihat di televisi. Israel menyebabkan semua orang Palestina, termasuk anak-anak, dengan tanpa pilihan kecuali mati.”Siapa yang menangis, siapa yang tertawa? Para orang tua sedih, sebelia itu mereka sudah berjihad karena tak lagi tahan dengan apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan: penindasan brutal Israel di bumi Palestina merdeka. Cemaslah para orang tua dengan nasib anak-anak mereka. Akan banyak martir muda lainnya menyusul?Telah meluaslah para syuhada Palestina, tak hanya pria dewasa dan perempuan, tapi juga remaja dan anak-anak. Dunia tampaknya tak bisa membantu rakyat Palestina, mungkin begitu alasannya. Lihatlah, betapa heroiknya anak-anak itu merasa diri mereka. Tiga remaja satu sekolah berusia 14 tahun rela berjihad, meski perjuangan mereka terlalu mudah dihadang tentara Israel yang menembaki mereka hingga tewas.Sesepuh dan pendiri Hamas, Sheikh Ahmned Yassin, menyampaikan keprihatinan dan menggambarkan aksi anak SMP itu sebagai “bencana nasional.” Bocah-bocah itu bukanlah anggota dari kelompok perlawanan manapun. Namun mereka beraksi atas nama mereka sendiri: anak-anak Palestina yang ingin merdeka dari Israel.Isi Kamar RemajaTengok lagi polah remaja Palestia lainnya. Inilah isi kamar tidur remaja Palestina di satu kamp pengungsi. Tak ada poster grup Linkin’ Park, apalagi Britney Spears. Di kamar Ali (bukan nama sebenarnya) ada selusin bom pipa di samping tempat tidurnya. Lalu ia membuka lemari bajunya, ada tiga jaket tentara Israel dan helm lusuh. Lalu ia mengacak-acak laci mencari potongan amunisi, dan duduk di lantai memegang dua senjata Kalashnikov.Kamar tidur itu jadi persembunyian sel termuda pejuang Palestina di kamp, sebuah benteng militansi di Tepi Barat. Israel mengklaim berhasil melumpuhkan jaringan militansi Palestina dalam agresi militer berdarahnya selama tiga pekan. Namun, di kamar itu delapan remaja pria berkumpul di sisa-sisa jaringan itu tatkala Israel mengobrak-abrik, menewaskan dan menangkapi para pejuang senior.Inilah generasi Palestina militan berikutnya, yang lapar untuk membalas dendam, menuntut darah Palestina yang ditumpahkan Zionis Israel. Usia mereka kurang dari 25 tahun. Remaja dan anak-anak Palestina telah tergiring menjadi mujahid karena sebab yang pasti. “Kami ada di sini karena Israel musuh kami yang menghancurkan rumah-rumah kami, dan karena begitu banyak rekan kami terbunuh,” ujar teman Ali, Mohammed. “Meskipun para pemimpin kami ditangkap, kami akan melanjutkan. Kami saling percaya, dan pemimpin kami mempercayai kami.”Pers AS dan warga mereka menyalahkan anak-anak dan orang tua Palestina (seolah Israel dan pemerintah AS tak pernah salah.) Tapi, kenapa bocah-bocah itu melakukannya? Tawfiq Salman, seorang psikiater di Bethlehem yang bekerja dengan anak-anak dan melakukan survey mengatakan: “Sembilan puluh persen anak-anak Palestina menderita dari sindrom stres pasca-traumatis sebagai akibat pengurungan Israel dan penembakan-penembakan itu.”Fadel Abu Hayn, psikolog dari Al Aqsa University, mengatakan banyak anak-anak mengalami trauma hebat dengan melihat dan mendengar orang Palestina, khususnya anak-anak seusia mereka, dibunuh tentara Israel. "Itu keputusasaan, keputusasaan, dan lebih banyak keputusasaan. Bocah-bocah tak sanggup mengatasi realitas sedih itu,” ujarnya. Dilanjutkannya, para pembom martir cilik itu lebih dimotivasi oleh rasa hebat keputusaasaan daripada nasionalisme yang hebat.”Ia mendesak pemimpin militan dan agama untuk membatasi dampak serangan bom martir kepada anak-anak. “Kita tidak seharusnya memiliterisasi seluruh masyarakat. Seorang anak sekolah harus belajar dan hanya pejuang yang tumbuh boleh berperang,” katanya lagi.Bagi Israel, kematian bocah-bocah Palestina ibarat catatan rutin tak ada artinya. Seorang jubir militer Israel mengatakan, “IDF [Pasukan Pertahanan Israel] mengidentifikasi tiga sosok mencurigakan merangkah beberapa meter dari pagar yang melindungi Netzarim. Mereka memulai tembakan dan ketiganya ditewaskan.” Khas Israel, khas Zionis.Remaja lainnya, Haitham Abu Shuqa (14), tewas pekan lalu ketika mencoba melakukan serangan solo terhadap pemukiman Yahudi dengan dua bom pipa dan pisau silet. Ia ditembak tentara Israel, dan gagal meledakkan serbuk amunisi senjata yang dibuat jadi bom itu.Pada 25 Februari, Noura Shalhoub (15), gadis ABG asal Tulkaram tewas ditembak tentara Israel dekat pos pemeriksaan di Jerusalem. Ia merencanakan membunuh tentara Israel dengan senjata sebilah pisau, tak lebih dari itu. Bapaknya Jamal tak menyangka gadis cantik, pendiam, dan pintar itu melakukan aksi serangan martir. Dalam pesannya, Noura malah mengimbau agar teman-teman sebayanya rela berjihad melawan Israel.Terpengaruh IsraelBanyak yang heran dengan tingkah Zaqout atau Noura? Abu Hayn yang melakukan kajian kenapa remaja Palestina berbondong-bondong jadi martir mengatakan bahwa 100 persen anak Palestina telah melihat kekerasan Israel. Aksi Zionis itu seperti penembakan, memborbardir rumah dan lainnya. “Sepertiga anak yang terlibat dalam survei mengatakan mereka terpengaruh dengan kekerasan tentara Israel, 90% mengatakan ingin ikut berintifada dan 63 persen mengaku ingin jadi martir,” katanya mengutip survei itu.Angka itu tak mengejutkan Abu Hayn, karena ia anggap hal itu sebagi reaksi bocah dan opini terhadap kekerasan berdarah yang dilakukan Israel yang menduduki Palestina sejak intifada dimulai. Inilah revolusi intifada Palestina, perjuangan dimulai sejak usia muda.Peneliti itu mengatakan ketidakmampuan figur orang tua, guru, pemerintah, polisi dan orang dewasa lainnya dalam melindungi anak-anak dari kekejaman tentara Israel menyebabkan hilangnya rasa aman para bocah dan mereka mencari perlindungan sendiri. Apalagi, kondisi makin parah, karena sebagian Palestina dikurung yang menimbulkan rasa perlawanan dari anak-anak.Melihat banyak kekerasan di televisi, di rumah, di sekolah dan di jalanan, adalah normal kalau anak Palestina dekat dengan kekerasan, itu kata Said Iyad Al-Barghouthi, profesor Sosiologi di Al-Najah University. Ia mengaku kenormalan ini tak bisa diterima banyak para pakar, namun itulah kenyataanya.Bocah-bocah Palestina juga banyak yang terkena kebrutalan pasukan Zionis. Sejumlah survei menyebutkan ada lebih 230 korban belia Palestina yang ditewaskan Israel, dan mereka jadi martir remaja. Bocah Mohammed Al Durra (12) adalah ikon heroik, yang tewas oleh peluru Israel di tangan ayahnya. Anak-anak Palestina tak akan lupa dengan wajahnya yang memelas, dengan batu di tangan, berhadapan dengan tank, beberapa saat ajal menjemputnya.Sengaja Targetkan BocahIsrael sengaja menargetkan anak-anak Palestina, itulah yang diungkapkan oleh beberapa koran besar Israel. Sejumlah tentara Israel diwawancarai dan mereka mengakui sengaja menargetkan anak-anak dalam pertempuran itu.Setelah banyak korban martir muda berjatuhan “di pagar pemukiman,” pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yasin, mengeluarkan seruan agar operasi martir dilakukan dengan perhitungan matang dan persiapan cukup. Itulah cara untuk menghindari opini publik dunia yang akan merugikan perjuangan Palestina, katanya dalam satu jumpa pers pekan ini.Saran Yasin ditentang seorang pemuka Jihad Islami, Abdulla al Shami. Ia mengatakan menentang gerakan rasionalisasi yang diutarakan Yasin. Menurutnya bukan saatnya mengangkat isu itu di saat invasi Israel dan penghancuran sistematis terjadi di Palestina.Selagi Israel juga memusnahkan warga sipil Palestina, katanya, “Saya pikir operasi seharusnya dilakukan di mana saja dan terhadap semua target.” Jika musuh (Israel) “menghentikan kejahatan terhadap warga sipil kami dan rumah kami, kami bersiap menghentikan membidik sipil Zionis meski faktanya mereka menduduki dan merampas tanah kita,” lanjutnya.Ibrahim Jaroush, seorang bocah Palestina yang menunggu kedatangan tiga mayat rekannya di rumah sakit Gaza. Bagaimana pendapatnya dengan kematian ketiga temannya itu? “Saya ingin membalas dendam demi anak-anak yang dibunuh Sharon,” ujar bocah berusia 11 tahun itu.Ratusan pejuang Palestina tewas dan ditangkap tentara Israel dalam agresi brutal di Tepi Barat. Namun, banyak anak ingin mati syahid di Palestina. “Orang Israel membunuh warga [Palestina], namun mereka tidak membunuh perlawanan. Perlawanan akan terus dan banyak orang –bahkan perempuan—datang ke kami kini melakukan operasi,” ujar Abu Khalil, veteran pejuang Brigade Al Aqsa. (sumber-sumber/afdhal)diambil dari ebook Kisah Bocah-Bocah Martir Palestina

( Ust Arifin Ilham)
Indonesia Berdzikir
Ya Alloh.Engkau Wali kamiEngkau Pelindung kamiEngkau Tempat kami Mengadu
Merdekakan bangsa kami dari belenggu maksiatMerdekakan bangsa kami dari belenggu kedzalimanMerdekakan bangsa kami dari belenggu kebodohanMerdekakan bangsa kami dari belenggu cinta duniaMerdekakan bangsa kami dari belenggu jiwa raga
Ya Rosul,Engkau Guru kamiEngkau Suri Tauladan kamiEngkaulah pembawa safaát
Kami rindu padamuTemuilah kami dihari nantiBerilah kami safaát muPeluklah kamiRangkullah kamiBerkumpullah bersama kami…
Amin…….
Bangsaku, mari berdzikir…Mari memperbaikin diri, karena hakikat dzikir dan doa adalah memperbaiki diri
Bangsaku, mari bertaubatMari berhenti melakukan maksiat, hakikat tuabat adalah tidak mengulangi dosa dan kesalahan. Hakikat memohon maaf dan ampun adalah berhenti melakukan kesalahan dan dosa yang sama.
(az_m1n, 01.12.08)

Biografi Imam Bukhari

Kelahiran dan Masa Kecil Imam BukhariImam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.Keluarga dan Guru Imam BukhariBukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti "al-Mubarak" dan "al-Waki". Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.Kejeniusan Imam BukhariBukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.Karya-karya Imam BukhariKaryanya yang pertama berjudul "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab "At-Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, "Saya menulis buku "At-Tarikh" di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama".Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami' ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al 'Ilal, Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du'afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami' as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' As-Sahih."Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun."Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya."Penelitian HaditsUntuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami' as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, "perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu" sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan "Haditsnya diingkari". Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata "Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan".Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits."Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.Metode Imam Bukhari dalam Menulis Kitab HaditsSebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga berbeda pendapat dengan mereka.Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami' as-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau untuk menulis kitab "Al-Jami 'as-Shahih".Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. "Saya susun kitab Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih". Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. "Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih", katanya suatu saat.Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.Terjadinya FitnahMuhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: "Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya." Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa "Al-Qur'an adalah makhluk".Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli : "Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid'ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia." Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur'an, makhluk ataukah bukan?" Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab: "Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid'ah." Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah." Di lain kesempatan, ia berkata: "Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta."Wafatnya Imam BukhariSuatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.Sumber: - http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari- http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits- http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=173- http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1- http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm

Biografi Singkat Imam Muslim

BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah

Hadits adalah sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Hadits sampai kepada kita dimulai dari sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan generasi seterusnya.

Di zaman Rasul hadits tidak dibukukan karena takut akan tercampur baur dengan Al-Qur’an. Akan tetapi mengingat perkembangan zaman, dan ditakutkan akan muncul hadits-hadits palsu ditambah lagi dengan sudah mulai berkurangnya para muhaddits, maka para ulama terdahulu telah menyusun kitab hadits yang mereka susun dengan berbagai syarat untuk meloloskan hadits tersebut dikitab karangan mereka.

Diantara mereka yang terkenal adalah Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Bukhari, Muslim, Baihaqi, dan sebagainya.Disini kami selaku pemakalah akan mencoba membahas mengenai sejarah Imam Muslim yang telah ditugaskan kepada kami.


Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang ini, kami mencoba merumuskan masalah sebagai berikut :
Bagaimana Sejarah Imam Muslim?
Bagaimanakah kehidupan Imam Muslim?
Bagaimana kehidupan dan lawatannya untuk mencari ilmu?
Bagaimana keahlian dalam hadits?
Apa karyanya yang telah dihasilkannya?

Tujuan Penulisan
Sebagian manfaat dan tujuan yang kami utarakan dari pengkajian makalah ini adalah :
Mengetahui Sejarah singkat Imam Muslim.
Memaparkan tentang kehidupan Imam Muslim yang merupakan sosok pribadi yang sederhana dan suri teladan yang sudah seharusnya kita selaku umatnya untuk mencontohnya.
Memaparkan kehidupan dan lawatannya mencari ilmu.
Memaparkan Keahlian dalam hadits.
Mengetahui Karya-karya yang telah dihasilkan.


BAB II
IMAM MUSLIM

A. Sejarah Singkat Imam Muslim

Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara'a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak ulama besar.

Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang luar biasa. Sejak usia dini, beliau telah berkonsentrasi mempelajari hadits. Pada tahun 218 H, beliau mulai belajar hadits, ketika usianya kurang dari lima belas tahun. Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan berguru pada seorang ahli hadits, yaitu Imam Ad Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan hadits.

Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas 'Abuzar; di Mesir beliau berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli hadits lainnya.

Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah beliau berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits. Kunjungannya yang terakhir beliau lakukan pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim sering mendatanginya untuk bertukar pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam Bukhari yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu hadits ketimbang dirinya.

Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, beliau bergabung kepada Bukhari. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya dengan Imam Az Zihli. Yang lebih menyedihkan, hubungan tak baik itu merembet ke masalah ilmu, yakni dalam hal penghimpunan dan periwayatan hadits-hadits Nabi SAW.

Imam Muslim dalam kitab shahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az Zihli, padahal beliau adalah gurunya. Hal serupa juga beliau lakukan terhadap Bukhari. Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan lain kecuali tidak memasukkan ke dalam Kitab Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu. Kendatipun demikian, dirinya tetap mengakui mereka sebagai gurunya.

Imam Muslim yang dikenal sangat tawadhu' dan wara' dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang beliau tulis dalam Shahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000 hadits yang beliau ketahui. Untuk menyaring hadits-hadits tersebut, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.

Mengenai metode penyusunan hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh, dan ta'dil, yakni suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Beliau juga menggunakan sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat), seperti haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarana


(mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), dan qaalaa (ia berkata).

Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam masalah ilmu hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam Bukhari. "Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Imam Muslim," komentar ulama besar Abu Quraisy Al Hafizh. Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy.

B. Reputasinya mengikuti gurunya Imam Bukhari

Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua kitab hadits shahih karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah, syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.

Melalui karyanya yang sangat berharga, al-Musnad ash-Shahih, atau al-Jami’ ash-Shahih, selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab tersebut memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, dan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.

Pengembaraan (rihlah) dalam pencarian hadits merupakan kekuatan tersendiri, dan amat penting bagi perkembangan intelektualnya. Dalam pengembaraan ini (tahun 220 H), Imam Muslim bertemu dengan guru-gurunya, dimana pertama kali bertemu dengan Qa’nabi dan yang lainnya, ketika menuju kota Makkah dalam rangka perjalanan haji. Perjalanan intelektual lebih serius, barangkali dilakukan tahun 230 H. Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya menuju ke Irak, Syria, Hijaz dan Mesir.

Waktu yang cukup lama dihabiskan bersama gurunya al-Bukhari. Kepada guru besarnya ini, Imam Muslim menaruh hormat yang luar biasa. "Biarkan aku mencium kakimu, hai Imam Muhadditsin dan dokter hadits," pintanya, ketika di sebuah pertemuan antara Bukhari dan Muslim.

Disamping itu, Imam Muslim memang dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah, sebagaimana al-Bukhari yang memiliki kehalusan budi bahasa, Imam Muslim juga memiliki reputasi, yang kemudian populer namanya — sebagaimana disebut oleh Adz-Dzahabi — dengan sebutan muhsin dari Naisabur.

Maslamah bin Qasim menegaskan, "Muslim adalah tsaqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam)." Senada pula, ungkapan ahli hadits dan fuqaha’ besar, Imam An-Nawawi, "Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits."


C. Kitab Shahih Muslim

Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama adalah karyanya, Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.

Walaupun dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam Muslim sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap hadits di tempat yang paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut. Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau sangat menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang berselisih pendapat dengan al-Bukhari.

Kitab Shahih Muslim memang dinilai kalangan muhaditsun berada setingkat di bawah al-Bukhari. Namun ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih unggul ketimbang kitabnya al-Bukhari.

Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya

memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.

Berdasarkan hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033 hadits. Metode penghitungan ini tidak didasarkan pada sistem isnad sebagaimana dilakukan ahli hadits, namun beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Artinya jika didasarkan isnad, jumlahnya bisa berlipat ganda.

D. Antara al-Bukhari dan Muslim

Imam Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya Studies in Hadith Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih Bukhari, kemudian menyusun karyanya sendiri, yang tentu saja secara metodologis dipengaruhi karya al-Bukhari.

Antara al-Bukhari dan Muslim, dalam dunia hadits memiliki kesetaraan dalam keshahihan hadits, walaupun hadits al-Bukhari dinilai memiliki keunggulan setingkat. Namun, kedua kitab hadits tersebut mendapatkan gelar sebagai as-Shahihain.

Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur

Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan, sebenarnya perbedaannya sangatlah sedikit, dan walaupun itu terjadi, hanyalah pada sistematika penulisannya saja, serta perbandingan antara tema dan isinya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an; agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup dengan "kemungkinan" bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya tadlis.

Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsaqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Disamping itu kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhari.

Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar —, bahwa Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya, karena menyusunnya di negeri sendiri dengan berbagai sumber di masa kehidupan guru-gurunya. Beliau juga


tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhari lakukan. Dan sejumlah alasan lainnya.

Namun prinsipnya, tidak semua hadits Bukhari lebih shahih ketimbang hadits Muslim dan sebaliknya. Hanya pada umumnya keshahihan hadits riwayat Bukhari itu lebih tinggi derajatnya daripada keshahihan hadits dalam Shahih Muslim.

E. Karya-karya Imam Muslim
Imam Muslim berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti:
1) Al-Asma’ wal-Kuna,
2) Irfadus Syamiyyin,
3) Al-Arqaam,
4) Al-Intifa bi Juludis Siba’,
5) Auhamul Muhadditsin,
6) t-Tarikh,
7) t-Tamyiz,
8) l-Jami’,
9) adits Amr bin Syu’aib,
10) Rijalul ‘Urwah,
11) awalatuh Ahmad bin Hanbal,
12) habaqat,
13) l-I’lal,
14) l-Mukhadhramin,
15) l-Musnad al-Kabir,
16) asyayikh ats-Tsawri,
17) asyayikh Syu’bah,
18) asyayikh Malik,
19) l-Wuhdan,
20) s-Shahih al-Masnad.

Kitab-kitab nomor 19 dan 20 telah dicetak, sementara nomor 1, 10, dan 12 masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental adalah Shahih dari judul singkatnya, yang sebenarnya berjudul, Al-Musnad as-Shahih, al-Mukhtashar minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl ‘anil ‘Adl ‘an Rasulillah.

F. Wafatnya Imam Muslim

Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga Allah SWT merahmatinya, mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh. Amiin.

BAB
PENUTUP
Kesimpulan

Dari pemaparan singkat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa :

· Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara'a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan,
· Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari.
· Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama adalah karyanya, Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi.
· Imam Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya Studies in Hadith Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih Bukhari, kemudian menyusun karyanya sendiri, yang tentu saja secara metodologis dipengaruhi karya al-Bukhari.
· Imam Muslim berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti: 1) Al-Asma’ wal-Kuna, 2) Irfadus Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5) Auhamul Muhadditsin, 6)At-Tarikh, 7) At-Tamyiz, 8) Al-Jami’, 9) Hadits Amr bin Syu’aib, 10) Rijalul ‘Urwah, 11)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal, 12) Thabaqat, 13) Al-I’lal, 14) Al-Mukhadhramin, 15) Al-Musnad al-Kabir, 16) Masyayikh ats-Tsawri, 17) Masyayikh Syu’bah, 18) Masyayikh Malik, 19) Al-Wuhdan, 20) As-Shahih al-Masnad
· Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H.

Saran-saran

Karena Ilmu Hadits kami sangat cetek, sangat dangkal sekali, maka kami mohon kepada Bapak Dosen / Asisten yang ahli dibidang Ilmu Hadits, Ilmu Mushthalahul Hadits, tolong dikoreksi, dibetulkan, ditambah atau dikurangi kalau ada yang salah didalam tulisan-tulisan kami nanti.
Alhamdulillahirabbil’alamin, billahi taufiq wal hidayah,
wasallamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, Kitab Hadith Shahih yang Enam,
Al Imam Adz-Dzahabi dll , Siyar A’laam An-Nubala’
http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298muslim.htm
http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=171
5.
http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/abad-04
6.
http://yuari.wordpress.com/2008/01/10/imam-ibnu-majah-perawi-hadis-dan-ahli-sejarah/
7.
http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=172
http://www.ahlussunnah-jakarta.org/detail.php?no=170

Posisi Sunnah dalam Pembentukan Syari'ah

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah

Sebagai sumber hukum Islam, hadits memegang peranan penting sebagai penjelas atas apa yang ada di dalam Al-Qur’an. Umat Islam tidak akan pernah dapat menjalankan ketentuan hukum dan cara ibadah tanpa melihat keterangan atau praktek yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui hadits-haditsnya. Hadits sebagaimana kita ketahui sebagai penjelasan dari Al-Qur’an, karena hukum dan kewajiban yang terdapat dalam Al-Qur’an hanya bersifat umum dan global, tidak rinci.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam menyampaikan risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umatnya telah diberikan Allah sifat-sifat yang luhur dan ilmu yang tinggi, sehingga seluruh tingkah laku dan ucapannya sesuai dengan kehendak Allah, tidak dengan hawa nafsunya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #“uqolù;$# ÇÌÈ ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ

Artinya : dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). ( QS. An-Najm 3-4 )





Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah “Posisi Sunnah dalam Pembentukan Syari’ah serta Kedudukan Sunnah dalam Al-Qur’an

Tujuan Penulisan

Dengan adanya makalah yang sederhana ini diharapkan menjadi bahan kajian bahwa seorang muslim yang telah meyakini kebenaran Islam, ia harus mengembalikan seluruh dimensi kehidupannya dalam rengkuhan nilai-nilainya yang terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Keduanya harus dijadikan referensi utama dalam cara berfikir, cara mengambil keputusan dan cara bertindak. Karena Al-Quran dan As-Sunnah inilah merupakan sumber petunjuk yang mampu membimbing manusia muslim ke jalan yang benar.





BAB II
PEMBAHASAN

I. Pengertian As-sunnah

Berbicara tentang As-Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Mendefinisikan As-Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih.
As-Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata: “Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh. Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri. Sedangkan menurut Al-Amidi As-Sunnah menurut pengertian bahasa Arab artinya ialah jalan (ath-thariqah).
As-Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya wajib, sunnah atau boleh. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa). Ibnu ‘Ajlan berkata ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya. Imam Shan’ani berkata ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.
Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As-Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam” Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.
As-Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih. Menurut Ahli Ushul Fiqih, As-Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syari’at dan juga dalil-dalilnya.7 Dalam pengertian syariah, As-Sunnah menurut Al-Amidi (w. 631 H) dalam Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam mempunyai dua pengertian.
Pertama: As-Sunnah dalam arti tidak wajib, misalnya shalat-shalat sunnah yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Contohnya shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh. Disebut sunnah, artinya bukan fardhu.
Kedua: As-Sunnah berarti apa-apa yang berasal dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yang merupakan dalil syariah (al-adillah al-syari’yah) selain Al-Qur’an. Yang termasuk As-Sunnah adalah:

Aqwal (Perkataan)
Yang dimaksud perkataan (aqwal) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah perkataan yang pernah beliau ucapkan dalam kesempatan-kesempatan yang berkaitan dengan penetapan hukum syariah. Misalnya sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Artinya: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Ashshabus Sunnan dan Ibnu Abi Syaibah).


Af’al (Perbuatan)
Yang dimaksud perbuatan (af’al) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah segala perbuatan Nabi yang sampai kepada kita melalui para sahabatnya. Seperti cara wudhu beliau, cara beliau melakukan shalat lima waktu dengan gerakan serta bacaannya, cara melaksanakan ibadah haji dan umrah dan sebagainya.

Taqrir (Pengakuan)

Yang dimaksud taqrir Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah sikap Nabi yang menunjukkan diam (sukut), tidak menyanggah atau setuju terhadap sesuatu, termasuk juga menyatakan salut dan dukungan terhadap perbuatan atau perkataan para sahabat di hadapan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Pengakuan (taqrir) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam terhadap hal-hal tersebut sama hukumnya seperti beliau sendiri yang melakukannya atau mengatakannya. Misalnya pengakuan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang halalnya dhab (sejenis biawak) yang dimakan Khalid bin Walid di hadapan Nabi, pengakuan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam terhadap ijtihad para sahabat tentang pelaksanaan shalat ashar dalam perang Bani Quraizhah, pengakuan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam terhadap orang Habasyah yang sedang berlatih lembing di Masjid Nabawi dan sebagainya.

As-Sunnah menurut jumhur ahli hadits (muhadditsin) adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).”12 Selain perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, As-Sunnah juga mencakup sifat (washf) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yaitu shifat khalqiyah (keadaan fisik) Nabi misalnya tinggi badan beliau, serta shifat khuluqiyah (akhlaq) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dalam tinjauan ushul fiqh, sifat fisik Nabi bukan sesuatu yang wajib diteladani, sedang sifat akhlaq Nabi dapat dimasukkan dalam kategori perkataan dan perbuatan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
As-Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih
As-Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Di sini bisa dilihat, mereka yang menyandarkan kepada ahli fikih tentang pengertian As-Sunnah tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.
Imam Asy-Syatibi (w. 790 H) dalam Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Ahkam menambahkan, As-Sunnah dapat pula berarti kebalikan dari bid’ah. Jika dikatakan “Fulan melakukan bid’ah” artinya adalah Fulan telah menyalahi As-Sunnah.

A. Dalil-dalil Kehujahan Sunnah

Yang dimaksud dengan kehujjahan As-Sunnah (hujjiyah as-sunnah) adalah keadaan As-Sunnah yang wajib dijadikan hujjah atau dasar hukum (al-dalil al-syar’i), sama dengan Al-Qur’an dikarenakan adanya dalil-dalil syariah yang menunjukkannya. Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Ushul Al-Fiqh Al-Islami, orang yang pertama kali berpegang dengan dalil-dalil ini diluar ‘ijma adalah Imam Asy-Syafi’I (w. 204 H) dalam kitabnya Ar-Risalah dan Al-Umm. Maka tidak heran, beliau lalu mendapatkan gelar kehormatan sebagai Penolong As-Sunnah (Nashir As-Sunnah).

1. Kehujjahannya Berdasarkan Ayat-ayat Al-Qur’an

Dalil-dalil dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa As-Sunnah adalah wahyu sebagaimana Al-Qur’an. Dalil yang menunjukkan kewahyuan As-Sunnah misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #“uqolù;$# ÇÌÈ ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ

Artinya :dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (QS.An-Najm 3-4 )

Struktur kalimat tersebut memberikan arti pembatasan (hashr), sebab terdapat istitsna’ (pengecualian) –yaitu kata illa- yang terletak sesudah kata syarat (kata –in). Jadi, apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam dakwahnya (at-tabligh) tiada lain hanya wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan yang lain.
Dalil-dalil yang semakna ayat di atas antara lain QS. Al-Anbiya’: 45, QS. Shaad: 70 dan QS. Al-An’aam: 50. Semua ayat-ayat itu menunjukkan bahwa ucapan, perbuatan dan taqrir atau sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kedudukannya sama dengan Al-Qur’an karena semuanya adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun dalil yang menunjukkan wajibnya mengikuti As-Sunnah, antara lain firman-Nya.
$tBur tb%x. 9`ÏB÷sßJÏ9 Ÿwur >puZÏB÷sãB #sŒÎ) ÓÓs% ª!$# ÿ¼ã&è!qß™u‘ur #·øBr& br& tbqä3tƒ ãNßgs9 äouŽzÏƒø:$# ô`ÏB öNÏd̍øBr& 3 `tBur ÄÈ÷ètƒ ©!$# ¼ã&s!qß™u‘ur ô‰s)sù ¨@Ê Wx»n=Ê $YZÎ7•B ÇÌÏÈ
Artinya : dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.

Dalam surat Al-Hasyr dinyatakan bahwa semua yang disampaikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah wajib untuk ditaati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Artinya: “…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat-ayat lainnya yang semakna dengan itu antara lain QS. An-Nisaa’: 65 dan 80, QS. An-Nuur: 63 dan QS. Al-Ahzab: 21. 20 Dalam surat An-Nisa’, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada manusia (orang yang beriman) untuk menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya dan para pemimpin mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Di dalam surat An-Nahl telah dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam diberikan otoritas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai mubayyin dari ayat-ayat yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman. Artinya: “…Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44). Di ayat yang lain dari surat An-Nahl Allah Ta’ala befirman. Artinya: “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. An-Nahl: 64). Di dalam surat Al-Jum’ah dinyatakan pula bahwa tugas Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah menyampaikan perintah dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Artinya: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jum’ah: 2). Imam Al-Syafi’I berkata Alkitab adalah Al-Qur’an sedangkan Al-Hikmah adalah sunnah Rasul.21 Semua ayat ini memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti dan mengambil apa-apa yang berasal dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Mentaati dan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tiada lain adalah mengambil As-Sunnah sebagai sumber hukum sebagaimana kita mengambil Al-Qur’an.

2. Kehujjahannya Berdasarkan Hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Orang-orang Islam yang kuat imannya tidak akan meragukan terhadap kehujjahan Sunnah, dan orang yang menerima Al-Qur’an sebagai hujjah, secara otomatis menerima sunnah sebagai hujjah dalam hukum-hukum Islam. Karena Al-Qur’an dan Hadits tidak bisa dipisahkan. Barangsiapa yang memisahkan Al-Qur’an dengan hadits berarti dia memisahkan Allah dan Rasul-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an telah mewajibkan semua orang untuk beriman kepada Rasul-Nya, mengikuti perilakunya, menaati semua perintahnya dan meninggalkan semua larangannya. Kehujjahan sunnah berdasarkan hadits banyak sekali, diantaranya sebagai berikut:
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menerangkan keutamaan orang-orang yang menyampaikan hadits-haditsnya kepada orang lain dengan tanpa mengubahnya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda. Artinya: “Ya Allah saksikanlah, maka hendaknya orang-orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, karena banyak orang yang tidak mendengar langsung lebih pandai dari orang yang mendengar langsung.” (HR. Muslim) “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan cahaya dan kegagahan bagi orang-orang yang mendengar hadits kami, kemudian dia sampaikan sebagaimana dia dengar, karena banyak orang-orang yang diberitahu lebih pandai dari orang yang memberi tahu.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menerangkan bahwa orang yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah tidak akan sesat. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda. Artinya: “Sesungguhya aku telah meninggalkan bagi kalian dua perkara, dimana kalian tidak akan sesat selamanya kalau tetap berpegang pada keduanya, yaitu kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Al-Hakim dan Daruquthni).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menegaskan akan ada orang-orang yang meragukan kehujjahan sunnahnya, ini termasuk mukjizat karena sudah terbukti sekarang. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda. Artinya: “Tidak aku temui salah seorang dari kalian tidur bersandar, sampai padanya perintah dari apa yang aku perintahkan, atau sesuatu yang aku larang, kemudian dia berkata, ‘Kami tidak tahu, apa yang ada pada kitab Allah kami ikuti’.” (HR. Abu Daud, Al-Hakim dan Tirmidzi) Ini terbukti bahwa banyak orang-orang bodoh yang bukan ahli hadits dan malahan bukan ahli agama menentang hadits-hadits yang dianggap tidak masuk akal dan bertentangan dengan hawa nafsu mereka.
3. Kehujjahannya Berdasarkan Perkataan Sahabat Dan Generasi Berikutnya

Kehujjahan sunnah berdasarkan atsar banyak sekali. Sahabat dan Tabi’in senantiasa mengadakan diskusi dan dialog tentang hadits. Anas berkata, “Kami bersama menghadiri majelis Rasulullah, untuk mendengar hadits dari beliau, apabila kami kembali kami langsung mendiskusikannya sehingga kami hafal.” Umayyah bin Khalid pernah mencoba mencari seluruh permasalahan di dalam Al-Qur’an. Akhirnya dia memberitahu kepada Ibnu Umar, bahwa dia tidak menemukan dalam Al-Qur’an tentang cara shalat musafir (di perjalanan). Kemudian Ibnu Umar menjawab, “Allah telah mengutus Muhammad, dan kita tidak tahu apa-apa, kita kerjakan saja apa yang Nabi kerjakan.” Ayyub al-Sakhtiyani berkata, “Apabila kamu mengajarkan hadits kepada seseorang, kemudian ia berkata kepadamu untuk tidak mengajarinya dan cukup engkau ajari dia Al-Qur’an saja, maka ketahuilah bahwa orang itu sesat dan menyesatkan.”Ibrahim An Nakha’i berkata: “Mereka para Salaf jika mendatangi seseorang yang akan diambil ilmunya, terlebih dahulu melihat bagaimana shalatnya, sunnahnya serta tingkah laku dan penampilannya. Setelah itu, baru mereka mengambil ilmunya.” Di dalam Risalah Al Qusyairiyah (1/75) karya Dzinnun Al Mashri ia berkata: “Termasuk tanda bagi seseorang yang mencintai Allah adalah bahwa dia mengikuti kekasih Allah dalam akhlaq, perbuatan dan perintah-perintah serta sunnah-sunnahnya.” Pernyataan ini benar-benar diambil dari Kitabullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Artinya: “Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31) Berkata Al Hasan Al Bashri: “Tanda kecintaan mereka kepada Allah adalah sikap ittiba’ mereka kepada sunnah Rasulullah.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir-nya 2/204, Ath Thabari 3/232, dan Al Laalika’i 1/204)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H) dalam kitabnya Ash-Sharim Al-Maslul hal 39 berkata: “Seseorang dapat dianggap kafir apabila ia menolak salah satu hukum Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang sudah tidak diragukan lagi sanadnya.” Imam Ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam II/80 berkata: “Orang yang beranggapan demikian (Ingkar Sunnah) adalah kafir, musyrik (menyekutukan Allah), halal dibunuh dan dirampas hartanya.” Imam Al-Jashash (w. 370 H) dalam kitabnya Ahkam Al-Qur’an II/214 berkata: “Barangsiapa menolak sebagian perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala atau perintah-perintah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka ia keluar dari golongan Islam, baik penolakan itu karena ragu-ragu, atau sekedar penolakan.” Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim I/510 menyatakan: “Barangsiapa tidak tunduk pada hukum Al-Kitab dan As-Sunnah dalam memutus perselisihan dan tidak kembali pada keduanya, berarti ia bukan seorang mukmin kepada Allah dan tidak pula percaya kepada Hari Kiamat.”
Dari penjelasan tersebut jelas bagi kita tentang perhatian ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan periode-periode berikutnya terhadap hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sehingga sampai kepada kita sekarang ini. Semua ini menunjukkan bahwa hadits itu adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Barangsiapa yang meninggalkan dan memisahkan salah satu diantara keduanya, berarti dia telah melanggar Al-Qur’an, Hadits dan ijma’ ulama Islam dari zaman sahabat sampai sekarang ini. Jelaslah As-Sunnah adalah sumber hukum syariah yang wajib diikuti dan diambil. Sebaliknya, sikap menolak As-Sunnah sebagai sumber hukum seperti yang terjadi di kalangan Ingkar Sunnah, bukan saja sebuah kekeliruan, tapi bahkan sebuah kekufuran yang nyata.

B. Posisi Sunnah Terhadap Al-Qur’an

Sunnah berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada dalam Al Qur'an. Dengan demikian hukum tersebut mempunyai dua sumber dan terdapat pula dua dalil. Yaitu dalil yang tersebut dalam Al Qur'an dan dali penguat yang datang dari Rasulullah. Sunnah dalam hal ini bisa berupa perkataan maupun perbuatan.
· Contoh Sunnah penguat Al Qur'an yang berupa perkataan
Perintah Nabi kepada para shahabatnya untuk puasa Ramadhan, yang senada dengan firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa."(Al Baqarah: 183)
· Contoh Sunnah penguat Al Qur'an yang berupa perbuatan
Sesungguhnya Allah memerintahkan dalam wudhu membasuh wajah kedua tangan hingga kedua siku, mengusap kepala dan menbasuh kaki hingga kedua mata kaki. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki."(Al Maidah: 6)
Maka Nabi melakukan hal itu, yaitu beliau membasuh wajah, sebagai realisasi dari perintah Allah untuk membasuh wajah, mengusap kepala sebagai realisasi dari perintah Allah untuk membasuh kepala, dan seterusnya. Sunnah seperti ini disebut bayan At Taqdir.
· Sunnah Berfungsi Sebagai Penafsir Ayat-ayat Mujmal
Sunnah kadang berfungsi sebagai penafsir hal-hal yang disebut secara mujmal dalam Al Qur'an, atau memberikan taqyid, atau mentakhshish ayat-ayat Al Qur'an yang Aam(umum). Dalam hal ini Allah telah memberi wewenang kepada Rasulullah untuk memberikan penjelasan terhadap nash-nash Al Qur'an, dengan firman-Nya:
"Keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan."
Misal:
Allah memerintahkan shalat, namun tidak menjelaskan jumlah rakaat, tata-cara, waktu dan syarat-syaratnya. Kemudian Sunnah datang menjelaskan kesemuanya itu. Rasulullah bersabda:
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat."(HR. Al Bukhari). Dan seperti ini disebut bayan At Tafsir.
· Sunnah Menasikh Al-Qur'an
Kadang Sunnah menasikh Al Qur'an. Bentuknya, ada sebuah ayat dalam Al Qur'an. Kemudian Sunnah datang belakangan dengan menyelisihi dan bertentangan dengannya, yang tidak memungkinkan untuk dijamak. Ini disebut Bayan At Tabdil. Sebagian ulama' menetapkannya, namun kebanyakan para muhaqqiq mengingkarinya.
Contoh dari kasus ini adalah:
Berkenaan berperang pada bulan-bulan haram, dikatakan ayat tersebut dinaskh dengan pebuatan Nabi. Yaitu ketika beliau memerangi Tsaqib pada bula DzulQa'dah. Dan yang benar mereka (musuh) memulai perang, sebagaimana beliau berangkat ke Makkah bersama para tentaranya, hingga tiba di Hunain. Dan bulan-bulan haram tidak dilarang untuk membela diri dari musuh. Sebagaimana dalam hadits:
"Adalah Nabi tidakberperang pada bulan-bulan haram kecuali bila diperangi, maka apabila (musuh) datang beliau berperang hingga musuh" (HR. Ahmad).
· Sunnah Menetapkan Hukum yang tidak Ada dalam Al-Qur'an
Sunnah kadang berfungsi menetapkan dan membentuk hukum yang tidak terdapat di dalam Al Qur'an. Dalam hal ini Allah berfirman:
"Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu."(An-Nisaa': 113)
Diantara hukum itu adalah hukum tentang haramnya memakan daging keledai negri, daging binatang buas yang mempunyai taring, burung yang mempunyai cakar, juga tentang haramnya memakai kain sutra dan emas bagi kaum laki-laki.
Nabi bersabda:
"Haram memakai kain sutra dan emas atas kaum pria dari umatku, dan dihalalkan bagi kaum wanita."(HR. Tirmidzi)


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dari pemaparan singkat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa :
Sunnah berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada dalam Al Qur'an. Dengan demikian hukum tersebut mempunyai dua sumber dan terdapat pula dua dalil. Yaitu dalil yang tersebut dalam Al Qur'an dan dali penguat yang datang dari Rasulullah. Sunnah dalam hal ini bisa berupa perkataan maupun perbuatan.

Saran-saran

Semua saran, koreksi dan kritik harap dikirimkan langsung ke email Penulis Makalah berikut ini :
azsoem@gmail.com atau moem1n@yahoo.co.id






DAFTAR PUSTAKA


1. Al Qur'an Al Karim dan Terjemahnya.
2. Al Mu'jam Al Wasith, Ibrahim Mushthafa, dkk.
3. Al Wadhih fi Ushul Al Fiqh li Al Mubtadi'in, DR Muhammad Sulaiman Al Asyqar
4. Pengantar Studi Ilmu Hadits, Syaikh Manna' Al Qaththan.
5. Dr. H. Sahabuddin, MA, As-Sunnah Diantara Pendukung Dan Penolaknya (Jurnal Al-Insan No.2, vol 1, 2005 hal 40)
6. Siapakah Ahlu Sunnah? Artikelnya dapat dilihat di http://www.asysyariah.com/
7. Abdul Wahhab Khallah, Ilmu Ushul Al-Fiqh.
8. M.M. Azami, Hadits Nabi dan Sejarah Kodifikasinya, hlm 41
9. M.M. Azami, Hadits Nabi dan Sejarah Kodifikasinya, hlm 42
10. http://www.kotasantri.com/
11. http://www.IlmuIslam.net/
12. http://www.asysyariah.com/