Lebaran 1430 H, Zaman Wis Akhir


Selamat lebaran 1430 H. Lebaran pada umur bumi yang semakin tua. Manusia harus lebih arif dalam mencari makna lebaran tahun ini dan tahun tahun selanjutnya. Lebaran bukan bersalam-salaman, mudik, dan bersilaturahmi. Lebaran adalah bagaimana upaya manusia untuk menghapus catatan-catatan amal menjadi kertas putih dalam lauh mahfudz. Lebaran bagi jiwa fitri memantulkan cahaya rembulan dan siap memantulkan cahaya kehidupan yang lebih besar dari rembulan. Jiwa yang telah siap mengemban amanah ilahi robbi sebagai wakil allah (khalifatullah) di muka bumi.

Lebaran Tahun 1430 H adalah hari lebaran yang diikuti oleh hampir seluruh umat islam di Indonesia. Semoga lebaran tahun banyak bisa menghapus catatan-catatan amal menjadi kertas yang putih bersih dan siap dicatat kembali atas bimbingan ilahi robbi. Jaman wis akhir, jaman wis akhir bumine goncang, bumine goncang sebuah peringatan lagu sejak jaman wali allah agar manusia segera kembali ke jalan ilahi robbi. Bumine goncang, gempa yang melanda secara maraton dari ujung aceh hingga ke papua adalah peringatan allah. Bumi yang tidak menerima amanah allah sebagai khalifah lebih kuat dan keras berdzikirnya daripada manusia. Manusia-manusia yang lalai akan hancur lebur ditelan bumi, untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran yang lebih. Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham

Lebaran 1430 H, semoga manusia Indonesia dapat membaca tanda-tanda alam yang merupakan manefestasi dari tanda-tanda bahwa Tuhan Maha Hidup, Maha Cinta, dan Maha Besar. Tanda-tanda agar manusia tak larut dalam nafsunya sendiri, manusia ingat perjanjian terhadap ilahi robbi ketika catatan amalnya dan ruhnya ditiupkan di rahim ibunya. Lebaran 1430 H manusia diberi kesempatan kembali untuk mengingat perjanjian manusa dengan tuhannya untuk menjadi khalifah allah di bumi.

Lebran 1430 H, menjadikan hati manusia menjadi lebih gilap untuk memantulkan cahaya ilahi robbi. Lebih peka akan cahaya-cahaya tuhan. Lebih peka mencari makna pantulan cahaya-cahaya tuhan. Lebih peka terhadap peringatan-peringatan alam dan peringatan-peringatan tuhan yang lain melalui lidah orang-orang shaleh. Jika tidak, manusia hidupnya akan musnah tak bermakna meski diberi kesempatan hidup 1000 tahun lagi. Berikut adalah sebuah peringatan dari karya seseorang beberapa ratus tahun lalu untuk manusia dan kehidupan yang diridhoi Allah SWT.
Jaman wis akhir jaman wis akhir bumine goyang
Akale jungkir Akale jungkir Negarane goncang
Jaman wis akhir jaman wis akhir bumine goyang
Akale jungkir Akale jungkir Negarane goncang
Jaman wis akhir Jaman wis akhir dunane sungsang
Makmume kintir makmume kintir imame ilang
Jaman wis akhir Jaman wis akhir dunane sungsang
Makmume kintir makmume kintir imame ilang
Jaman wis akhir jaman wis akhir langite peteng
Atine peteng atine kafir uripe ngleleng
Jaman wis akhir jaman wis akhir langite peteng
Atine peteng atine kafir uripe ngleleng
Jaman wis akhir jaman wis akhir banjire bandang
Sing mburi mungkir sing mburi mungkir sing ngarep edan
Jaman wis akhir jaman wis akhir banjire bandang
Sing mburi mungkir sing mburi mungkir sing ngarep edan.

Maaf syairnya jawa, ga sempat terjemahin.


Di Sekolah/Madrasah, Halal Bi Halal Tak Sekadar Menukar Khilaf dengan Maaf

Halal bi halal. Acara terfavorit di Idul Fitri selepas Ramadhan, tak terkecuali bagi para guru sebagai bawahan dan kepala sekolah/madrasah atasan mereka. Dengan perhelatan tersebut, mereka berkesempatan saling memaafkan dan bersilaturahmi selayaknya sesama keluarga. Sehingga diharapkan perolehannya berupa kembalinya masing-masing individu ke fitrah. Kembali kosong-kosong.

Namun setelah ini apa? Tentunya tak sekadar menukar khilaf dengan maaf lalu selesai. Terutama setelah masing-masing melakukan introspeksi tentang hal-hal tidak patut apa yang dilakukan. Dan mampu memahami hal-hal apa yang membuat segalanya menjadi lebih baik.

Pastinya yang diinginkan oleh para guru dan kepala sekolah/madrasah ke depan nanti adalah pulihnya kinerja mereka. Ini berarti segala sesuatu berjalan sesuai dengan komitmen atas kemajuan dan prestasi. Tapi sering dilupakan, bahwa untuk mewujudkannya justeru faktor kepemimpinan kepala sekolah/madrasah yang akan teruji lebih keras. Bagaimana tidak?

Cobalah diingat-ingat kembali, walaupun telah bertukar maaf dengan khilaf, tanpa disadari oleh para kepala sekolah/madrasah, kalau terjadi lagi stagnasi dalam memajukan institusi, mereka kerap terperangkap mengungkapkan masalah ini dengan mengungkit-ungkit kesalahan di pihak guru.

Parahnya terkadang disertai banyak ancaman, atau minimal sering memberi teguran berupa nota dinas, atau memo. Solusi mereka terfokus pada persoalan yang telah lewat, berorientasi pada masa lalu. Suka menghukum, suka panik, mencecar guru dengan banyak bertanya mengapa, sehingga jawaban-jawaban pun senantiasa bernuansa input negatif.

Alih-alih mengoreksi kesalahan guru dengan keteladanan, mereka malah terlalu suka memberikan petunjuk laiknya sang superior. Gejala ini pertanda bahwa kemampuan bawahan kurang dihargai. Tidak memberi keleluasaan bawahan berinisiatif atau berpikir mandiri. Akibatnya, energi banyak dihabiskan untuk mengatasi sendiri hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan oleh bawahan. Bawahan jadi malas berpikir memberi solusi setiap muncul permasalahan. Semua persoalan berat atau enteng, dan pekerjaan strategis akan selalu dikembalikan pada atasan mereka.

Tetapi tindakan bawahan yang demikian itu bukan tanpa alasan. Mereka melakukannya sebagai tindakan menyelamatkan diri, membuat tameng atas hukuman atau teguran yang akan dijatuhkan ke dirinya, jika terjadi kesalahan. Atau, ada juga bawahan yang suka mengadukan kekurangan teman sejawatnya alias tumbak cucukan melengkapi teknik lempar batu sembunyi tangan. Untuk itu, biasanya atasanlah yang dipaksa pontang-panting menyelesaikan masalah, biarpun persoalan yang dihadapi hanya sepele, dan cukup representatif seandainya diselesaikan sendiri oleh bawahan setingkat wali kelas, guru BK, atau wakasek.

Pengungkapan keadaan sekolah/madrasah sedemikian tidak patut seperti di atas, semoga tidak akan ditemui lagi oleh guru-guru pasca halal bi halal 1430 H. Para pihak pasti ingin segalanya menjadi lebih baik. Di mana semua orang baik atasan maupun bawahan adalah co-learners, menjadi rekan belajar. Ide-ide positif diakses oleh siapapun, tidak peduli siapa yang melahirkannya.

Mereka bekerja dalam suasana kesetaraan dan respek. Atasan memberikan contoh kepada semua warga sekolah/madrasah, cenderung mencari solusi, bukan membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan oleh siapapun. Karena berorientasi pada solusi, maka semua orang giat berkolaborasi, berefleksi, dan melakukan inovasi-inovasi. Boleh dikatakan jarang atau tidak pernah sama sekali kepala sekolah/madrasah memberikan teguran. Tetapi yang terdengar terus menerus adalah dorongan kepada bawahan guna mendapatkan reward atas prestasi-prestasinya.

Bukan berarti atasan dilarang memberi peringatan terhadap kesalahan yang dilakukan oleh bawahan. Namun, cara menangani bawahan yang salah akan jatuh pada nuansa memberi solusi bagaimana agar tak terulang lagi ketimbang menghakimi. Misalnya dalam menangani kasus guru yang sering terlambat. Kepala sekolah/madrasah yang bijak akan membuang jauh-jauh pertanyaan mengapa terlambat, dan mengganti dengan pertanyaan bagaimana saya bisa membantu memecahkan masalah keterlambatan Anda ini?

Pertanyaan seperti inilah yang lebih berorientasi ke masa depan, dan tidak mengandalkan tukar menukar kata maaf di acara halal bi halal Idul Fitri tahun yang akan datang. Jawaban oleh bawahan pun akan sejalan dengan tindakan nyata memecahkan masalah, tidak pernah bermaksud mempersulit orang lain, atau mencari-cari alasan demi mengingkari kesalahan.

*)Eddy Soejanto adalah pemerhati pendidikan.


LOKASI GEMPA TASIKMALAYA - Kabar tvOne - tvOne Memang Beda

LOKASI GEMPA TASIKMALAYA - Kabar tvOne - tvOne Memang Beda

Shared via AddThis

detikcom : Tasikmalaya Mendunia di Twitter

title : Tasikmalaya Mendunia di Twitter
summary : Sesaat setelah gempa 7,3 skala richter mengguncang, Jakarta dan Tasikmalaya langsung masuk di daftar topik paling populer di Twitter. Nama kedua kota di Indonesia itu pun mendunia di antara topik-topik dari berbagai belahan dunia lainnya . (read more)