Keutamaan Bulan Muharam


 Hari-hari ini kita telah memasuki bulan Muharram tahun 1431 Hijriah. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam. Bagi kita, barangkali tahun baru ini tidak seberapa berkesan karena negara kita tidak menggunakan kalender Hijriah, tetapi Masehi. Dan yang akrab dalam keseharian kita adalah hitungan kalender Masehi. Tanggal lahir, pernikahan, masuk dan libur kantor dan sebagainya. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita perlu untuk sejenak menghayati beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini. Beberapa hal yang seyogyanya kita jadikan renungan itu adalah : 

1. Syukur atas Usia yang diberikan Allah 
Umur adalah nikmat yang diberikan Allah pada kita, dan jarang kita syukuri. Betapa banyak orang yang kita kenal, baik teman, sahabat , keluarga, guru, atau siapa pun yang kita kenal, tahun lalu masih hidup bersama kita. Bergurau, berkomunikasi, mengajar, menasehati atau melakukan aktifitas hidup sehari-hari, namun tahun ini dia telah tiada. Dia telah wafat, menghadap Allah Suhanahu wa ta’ala dengan membawa amal shalehnya dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Sementara kita saat ini masih diberi Allah kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah. 
Umur yang kita hitung pada diri kita seringkali kita tetapkan berdasarkan hitungan kalender Masehi. Dan hitungan atau jumlah usia kita tentu akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan hitungan yang mengacu pada kalender hijriyah. Sementara, lepas dari masalah ajal yang akan datang menjemput sewakatu-waktu, terkadang kita menganggap usia kita yang dibanding Rasulullah saw. yang wafat pada usia 63 tahun, kita merasa masih jauh dari angka itu. Padahal bisa jadi hitungan umur kita telah lebih banyak dari yang kita tetapkan. Karena itu sangat tidak layak apabila seseorang yang masih diberi kesehatan, kelapangan rizki dan kesempatan untuk beramal lalai bersyukur pada Allah dengan mengabaikan perintah-perintahNya serta sering melanggar larangan-laranganNya. 

2. Muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar. 
Ini adalah hal yang penting dilakukan setiap muslim. Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender di rumah kita, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok. 
Allah berfirman : 
(( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون ))
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18). 

Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak. 
Rasulullah saw bersabda : "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian". 
Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata : 
"Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah" 
3. Mengenang Hijrah Rasulullah saw 
Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah Umar bin Khatthab ra tatkala mencanangkan penanggalan Islam. Pada saat itu ada yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai l bulan ada pula yang mengusulkan bulan Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah saw untuk hijrah pasca peristiwa Bai’atul Aqabah, dimana terjadi bai’at 75 orang Madinah yang siap membela dan melindungi Rasulullah SAW, apabila beliau datang ke Madinah. Dengan adanya bai'at ini Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang Qurais senantiasa mengintai beliau. 
Peristiwa hijrah ini seyogyanya kita ambil sebagai sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Betapapun berat menegakkan agama Allah, tetapi seorang muslim tidak layak untuk mengundurkan diri untuk berperan didalamnya. Rasulullah SAW, akan keluar dari rumah sudah ditunggu orang-orang yang ingin membunuhnya. Begitu selesai melewati mereka, dan harus bersembunyi dahulu di sebuah goa,masih juga dikejar, namun mereka tidak berhasil dan beliau dapat meneruskan perjalanan. Namun pengejaran tetap dilakukan, tetapi Allah menyelamatkan beliau yang ditemani Abu Bakar hingga sampai di Madinah dengan selamat. Allah menolong hamba yang menolong agamaNya. Perjalanan dari Mekah ke Madinah yang melewati padang pasir nan tandus dan gersang beliau lakukan demi sebuah perjuangan yang menuntut sebuah pengorbanan. Namun dibalik kesulitan ada kemudahan. Begitu tiba di Madianah, dimulailah babak baru perjuangan Islam. Perjuangan demi perjuangan beliau lakukan. Menyampaikan wahyu Allah, mendidik manusia agar menjadi masyarakat yang beradab dan terkadang harus menghadapi musuh yang tidak ingin hadirnya agama baru. Tak jarang beliau turut serta ke medan perang untuk menyabung nyawa demi tegaknya agama Allah, hingga Islam tegak sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk dunia saat itu. Lalu sudahkah kita berbuat untuk agama kita? 

4. Kalender Hijriyah adalah Kalender Ibadah kita 
Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Akan tetapi hari yang istimewa bagi kebanyakan dari kita bukan hari Jum’at, melainkan hari Minggu. Karena kalender yang kita pakai adalah Kalender Masehi. Dan sekedar mengingatkan, hari Minggu adalah hari ibadah orang-orang Nasrani. Sementara Rasulullah saw menyatakan bahwa hari jum’at adalah sayyidul ayyam (hari yang utama diantara hari yang lain). Demikian pula penetapan hari raya kita, baik Idul Adha maupun Idul Fitri pun mengacu pada hitungan kalender Hijriyah. Wukuf di Arafah yang merupakan satu rukun dalam ibadah haji, waktunya pun berpijak pada kalender hijriah. Begitu pula awal Puasa Ramadhan, puasa ayyamul Bidh ( tanggal 13,14,15 tiap bulan) dan sebagainya mengacu pada Penanggalan Hijriah. Untuk itu seyogyanya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada Kalender Islam ini. 

5. Beberapa Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Muharram 
a. Bulan Haram 
Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk diantara bulan-bulan yang dimuliakan (al Asy- hurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta’ala : 
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36). 
Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : 
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain. 
Sebagaimana ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita menjaga Shalat Wustha, yang banyak ahli Tafsir memahami shalat wustha adalah Shalat Ashar. Dalam hal ini, shalat Ashar mendapat perhatian khusus untuk kita jaga. 
Firman Allah : "Peliharalah segala shalat mu, dan peliharalah shalat wustha" (Q.S. al Baqarah :238) Nama Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini. 

b. Bulan Allah 
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya. 
Rasulullah bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim)
 
c. Sunnah Berpuasa 
Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh. 
Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah saw. kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya : 

1.Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah saw, bersabda : 
“ Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim) 
2. Ibnu Abbas ra berkata : 
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim) 
3. Ibnu Abbas ra berkata : 
Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab :“ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda : 
"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ 
Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim) 
4.Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata : 
Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata : "Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ (H.R. Bukhari dan Muslim) 
Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ 
Selain hadis-hadis yang menyebutkan tentang puasa di bulan ini, tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan di bulan Muharram ini. 

Bagaimana Berpuasa di bulan Asyura ? Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan : 
- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11) 
- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits 
- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja. 
Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut : 
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10) 
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh). 
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakanyang shahih, dimana Rasulullah untuk puasa pada tanggal 9. hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi. 
Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain. 
Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah saw untuk melakukan puasa,sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tetunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin. 

d. Diantara Peristiwa di Bulan Muharram 
Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam di sebuah tempat cucu Rasulullah sejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein yang bernama Karbala. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan “Peristiwa Karbala”. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Mu’awiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut. 
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan memilukan bagi siapa saja yang mengenang atau membaca kisahnya, , dan kita tentu mencintai danapalagi terhadap orang yang dicintai Rasulullah memuliakannya. Namun musibah apapun yang terjadi dan betapapun kita sangat , hal itu jangan sampai membawa kita larut dalammencintai keluarga Rasulullah kesedihan dan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk duka dengan yangmemukul-mukul diri, menangis apalagi sampai mencela shahabat Rasulullah tidak termasuk Ahli Bait (keluarga dan keturunan beliau). Yang mana hal ini biasa dilakukan suatu kelompok syi'ah yang mengaku memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Ahli Bait (Keluarga Rasulullah), pdahal kenyataanya tidak demikian. 

e. Adat Istiadat di Tanah Air 
Pada awal Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, di tanah air sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Sang Dewi penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada. 
 telah mengajarkan pada kita agarRasulullah memiliki jati diri sebagai seorang Muslim dalam kehidupan. Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah pada Allah. Ajaran yang dibawa Rasulullah telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya. 
Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, yang tidak ada keselamatan kecuali dengan berpegang kepada keduanya dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in dan penerus mereka yang setia berpegang kepada sunnahnya dan meniti jalannya, adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, wal'iyadzubillah. 
  Semoga kita selalu diberi taufiq dan dibimbing oleh Allah swt. Kejalan-Nya yang lurus serta mendapatkan keridhaan dan ampunany-Nya, amin ya rabbal 'alamin. 

Oleh: Islamhouse team Indonesia



Keutamaan Bulan Muharam


 Hari-hari ini kita telah memasuki bulan Muharram tahun 1428 Hijriah. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam. Bagi kita, barangkali tahun baru ini tidak seberapa berkesan karena negara kita tidak menggunakan kalender Hijriah, tetapi Masehi. Dan yang akrab dalam keseharian kita adalah hitungan kalender Masehi. Tanggal lahir, pernikahan, masuk dan libur kantor dan sebagainya. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita perlu untuk sejenak menghayati beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini. Beberapa hal yang seyogyanya kita jadikan renungan itu adalah : 

1. Syukur atas Usia yang diberikan Allah 
Umur adalah nikmat yang diberikan Allah pada kita, dan jarang kita syukuri. Betapa banyak orang yang kita kenal, baik teman, sahabat , keluarga, guru, atau siapa pun yang kita kenal, tahun lalu masih hidup bersama kita. Bergurau, berkomunikasi, mengajar, menasehati atau melakukan aktifitas hidup sehari-hari, namun tahun ini dia telah tiada. Dia telah wafat, menghadap Allah Suhanahu wa ta’ala dengan membawa amal shalehnya dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Sementara kita saat ini masih diberi Allah kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah. 
Umur yang kita hitung pada diri kita seringkali kita tetapkan berdasarkan hitungan kalender Masehi. Dan hitungan atau jumlah usia kita tentu akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan hitungan yang mengacu pada kalender hijriyah. Sementara, lepas dari masalah ajal yang akan datang menjemput sewakatu-waktu, terkadang kita menganggap usia kita yang dibanding Rasulullah saw. yang wafat pada usia 63 tahun, kita merasa masih jauh dari angka itu. Padahal bisa jadi hitungan umur kita telah lebih banyak dari yang kita tetapkan. Karena itu sangat tidak layak apabila seseorang yang masih diberi kesehatan, kelapangan rizki dan kesempatan untuk beramal lalai bersyukur pada Allah dengan mengabaikan perintah-perintahNya serta sering melanggar larangan-laranganNya. 

2. Muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar. 
Ini adalah hal yang penting dilakukan setiap muslim. Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender di rumah kita, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok. 
Allah berfirman : 
(( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون ))
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18). 

Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak. 
Rasulullah saw bersabda : "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian". 
Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata : 
"Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah" 
3. Mengenang Hijrah Rasulullah saw 
Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah Umar bin Khatthab ra tatkala mencanangkan penanggalan Islam. Pada saat itu ada yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai l bulan ada pula yang mengusulkan bulan Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah saw untuk hijrah pasca peristiwa Bai’atul Aqabah, dimana terjadi bai’at 75 orang Madinah yang siap membela dan melindungi Rasulullah SAW, apabila beliau datang ke Madinah. Dengan adanya bai'at ini Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang Qurais senantiasa mengintai beliau. 
Peristiwa hijrah ini seyogyanya kita ambil sebagai sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Betapapun berat menegakkan agama Allah, tetapi seorang muslim tidak layak untuk mengundurkan diri untuk berperan didalamnya. Rasulullah SAW, akan keluar dari rumah sudah ditunggu orang-orang yang ingin membunuhnya. Begitu selesai melewati mereka, dan harus bersembunyi dahulu di sebuah goa,masih juga dikejar, namun mereka tidak berhasil dan beliau dapat meneruskan perjalanan. Namun pengejaran tetap dilakukan, tetapi Allah menyelamatkan beliau yang ditemani Abu Bakar hingga sampai di Madinah dengan selamat. Allah menolong hamba yang menolong agamaNya. Perjalanan dari Mekah ke Madinah yang melewati padang pasir nan tandus dan gersang beliau lakukan demi sebuah perjuangan yang menuntut sebuah pengorbanan. Namun dibalik kesulitan ada kemudahan. Begitu tiba di Madianah, dimulailah babak baru perjuangan Islam. Perjuangan demi perjuangan beliau lakukan. Menyampaikan wahyu Allah, mendidik manusia agar menjadi masyarakat yang beradab dan terkadang harus menghadapi musuh yang tidak ingin hadirnya agama baru. Tak jarang beliau turut serta ke medan perang untuk menyabung nyawa demi tegaknya agama Allah, hingga Islam tegak sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk dunia saat itu. Lalu sudahkah kita berbuat untuk agama kita? 

4. Kalender Hijriyah adalah Kalender Ibadah kita 
Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Akan tetapi hari yang istimewa bagi kebanyakan dari kita bukan hari Jum’at, melainkan hari Minggu. Karena kalender yang kita pakai adalah Kalender Masehi. Dan sekedar mengingatkan, hari Minggu adalah hari ibadah orang-orang Nasrani. Sementara Rasulullah saw menyatakan bahwa hari jum’at adalah sayyidul ayyam (hari yang utama diantara hari yang lain). Demikian pula penetapan hari raya kita, baik Idul Adha maupun Idul Fitri pun mengacu pada hitungan kalender Hijriyah. Wukuf di Arafah yang merupakan satu rukun dalam ibadah haji, waktunya pun berpijak pada kalender hijriah. Begitu pula awal Puasa Ramadhan, puasa ayyamul Bidh ( tanggal 13,14,15 tiap bulan) dan sebagainya mengacu pada Penanggalan Hijriah. Untuk itu seyogyanya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada Kalender Islam ini. 

5. Beberapa Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Muharram 
a. Bulan Haram 
Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk diantara bulan-bulan yang dimuliakan (al Asy- hurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta’ala : 
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36). 
Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : 
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain. 
Sebagaimana ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita menjaga Shalat Wustha, yang banyak ahli Tafsir memahami shalat wustha adalah Shalat Ashar. Dalam hal ini, shalat Ashar mendapat perhatian khusus untuk kita jaga. 
Firman Allah : "Peliharalah segala shalat mu, dan peliharalah shalat wustha" (Q.S. al Baqarah :238) Nama Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini. 

b. Bulan Allah 
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya. 
Rasulullah bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim)
 
c. Sunnah Berpuasa 
Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh. 
Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah saw. kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya : 

1.Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah saw, bersabda : 
“ Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim) 
2. Ibnu Abbas ra berkata : 
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim) 
3. Ibnu Abbas ra berkata : 
Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab :“ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda : 
"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ 
Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim) 
4.Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata : 
Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata : "Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ (H.R. Bukhari dan Muslim) 
Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ 
Selain hadis-hadis yang menyebutkan tentang puasa di bulan ini, tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan di bulan Muharram ini. 

Bagaimana Berpuasa di bulan Asyura ? Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan : 
- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11) 
- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits 
- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja. 
Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut : 
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10) 
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh). 
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakanyang shahih, dimana Rasulullah untuk puasa pada tanggal 9. hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi. 
Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain. 
Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah saw untuk melakukan puasa,sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tetunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin. 

d. Diantara Peristiwa di Bulan Muharram 
Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam di sebuah tempat cucu Rasulullah sejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein yang bernama Karbala. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan “Peristiwa Karbala”. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Mu’awiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut. 
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan memilukan bagi siapa saja yang mengenang atau membaca kisahnya, , dan kita tentu mencintai danapalagi terhadap orang yang dicintai Rasulullah memuliakannya. Namun musibah apapun yang terjadi dan betapapun kita sangat , hal itu jangan sampai membawa kita larut dalammencintai keluarga Rasulullah kesedihan dan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk duka dengan yangmemukul-mukul diri, menangis apalagi sampai mencela shahabat Rasulullah tidak termasuk Ahli Bait (keluarga dan keturunan beliau). Yang mana hal ini biasa dilakukan suatu kelompok syi'ah yang mengaku memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Ahli Bait (Keluarga Rasulullah), pdahal kenyataanya tidak demikian. 

e. Adat Istiadat di Tanah Air 
Pada awal Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, di tanah air sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Sang Dewi penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada. 
 telah mengajarkan pada kita agarRasulullah memiliki jati diri sebagai seorang Muslim dalam kehidupan. Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah pada Allah. Ajaran yang dibawa Rasulullah telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya. 
Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, yang tidak ada keselamatan kecuali dengan berpegang kepada keduanya dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in dan penerus mereka yang setia berpegang kepada sunnahnya dan meniti jalannya, adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, wal'iyadzubillah. 
  Semoga kita selalu diberi taufiq dan dibimbing oleh Allah swt. Kejalan-Nya yang lurus serta mendapatkan keridhaan dan ampunany-Nya, amin ya rabbal 'alamin. 

Oleh: Islamhouse team Indonesia



Keseimbangan Matematika dalam Alquran | Berita Dunia Islam - Suara Media Islam

Keseimbangan Matematika dalam Alquran | Berita Dunia Islam - Suara Media Islam

Lebaran 1430 H, Zaman Wis Akhir


Selamat lebaran 1430 H. Lebaran pada umur bumi yang semakin tua. Manusia harus lebih arif dalam mencari makna lebaran tahun ini dan tahun tahun selanjutnya. Lebaran bukan bersalam-salaman, mudik, dan bersilaturahmi. Lebaran adalah bagaimana upaya manusia untuk menghapus catatan-catatan amal menjadi kertas putih dalam lauh mahfudz. Lebaran bagi jiwa fitri memantulkan cahaya rembulan dan siap memantulkan cahaya kehidupan yang lebih besar dari rembulan. Jiwa yang telah siap mengemban amanah ilahi robbi sebagai wakil allah (khalifatullah) di muka bumi.

Lebaran Tahun 1430 H adalah hari lebaran yang diikuti oleh hampir seluruh umat islam di Indonesia. Semoga lebaran tahun banyak bisa menghapus catatan-catatan amal menjadi kertas yang putih bersih dan siap dicatat kembali atas bimbingan ilahi robbi. Jaman wis akhir, jaman wis akhir bumine goncang, bumine goncang sebuah peringatan lagu sejak jaman wali allah agar manusia segera kembali ke jalan ilahi robbi. Bumine goncang, gempa yang melanda secara maraton dari ujung aceh hingga ke papua adalah peringatan allah. Bumi yang tidak menerima amanah allah sebagai khalifah lebih kuat dan keras berdzikirnya daripada manusia. Manusia-manusia yang lalai akan hancur lebur ditelan bumi, untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran yang lebih. Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham

Lebaran 1430 H, semoga manusia Indonesia dapat membaca tanda-tanda alam yang merupakan manefestasi dari tanda-tanda bahwa Tuhan Maha Hidup, Maha Cinta, dan Maha Besar. Tanda-tanda agar manusia tak larut dalam nafsunya sendiri, manusia ingat perjanjian terhadap ilahi robbi ketika catatan amalnya dan ruhnya ditiupkan di rahim ibunya. Lebaran 1430 H manusia diberi kesempatan kembali untuk mengingat perjanjian manusa dengan tuhannya untuk menjadi khalifah allah di bumi.

Lebran 1430 H, menjadikan hati manusia menjadi lebih gilap untuk memantulkan cahaya ilahi robbi. Lebih peka akan cahaya-cahaya tuhan. Lebih peka mencari makna pantulan cahaya-cahaya tuhan. Lebih peka terhadap peringatan-peringatan alam dan peringatan-peringatan tuhan yang lain melalui lidah orang-orang shaleh. Jika tidak, manusia hidupnya akan musnah tak bermakna meski diberi kesempatan hidup 1000 tahun lagi. Berikut adalah sebuah peringatan dari karya seseorang beberapa ratus tahun lalu untuk manusia dan kehidupan yang diridhoi Allah SWT.
Jaman wis akhir jaman wis akhir bumine goyang
Akale jungkir Akale jungkir Negarane goncang
Jaman wis akhir jaman wis akhir bumine goyang
Akale jungkir Akale jungkir Negarane goncang
Jaman wis akhir Jaman wis akhir dunane sungsang
Makmume kintir makmume kintir imame ilang
Jaman wis akhir Jaman wis akhir dunane sungsang
Makmume kintir makmume kintir imame ilang
Jaman wis akhir jaman wis akhir langite peteng
Atine peteng atine kafir uripe ngleleng
Jaman wis akhir jaman wis akhir langite peteng
Atine peteng atine kafir uripe ngleleng
Jaman wis akhir jaman wis akhir banjire bandang
Sing mburi mungkir sing mburi mungkir sing ngarep edan
Jaman wis akhir jaman wis akhir banjire bandang
Sing mburi mungkir sing mburi mungkir sing ngarep edan.

Maaf syairnya jawa, ga sempat terjemahin.


Di Sekolah/Madrasah, Halal Bi Halal Tak Sekadar Menukar Khilaf dengan Maaf

Halal bi halal. Acara terfavorit di Idul Fitri selepas Ramadhan, tak terkecuali bagi para guru sebagai bawahan dan kepala sekolah/madrasah atasan mereka. Dengan perhelatan tersebut, mereka berkesempatan saling memaafkan dan bersilaturahmi selayaknya sesama keluarga. Sehingga diharapkan perolehannya berupa kembalinya masing-masing individu ke fitrah. Kembali kosong-kosong.

Namun setelah ini apa? Tentunya tak sekadar menukar khilaf dengan maaf lalu selesai. Terutama setelah masing-masing melakukan introspeksi tentang hal-hal tidak patut apa yang dilakukan. Dan mampu memahami hal-hal apa yang membuat segalanya menjadi lebih baik.

Pastinya yang diinginkan oleh para guru dan kepala sekolah/madrasah ke depan nanti adalah pulihnya kinerja mereka. Ini berarti segala sesuatu berjalan sesuai dengan komitmen atas kemajuan dan prestasi. Tapi sering dilupakan, bahwa untuk mewujudkannya justeru faktor kepemimpinan kepala sekolah/madrasah yang akan teruji lebih keras. Bagaimana tidak?

Cobalah diingat-ingat kembali, walaupun telah bertukar maaf dengan khilaf, tanpa disadari oleh para kepala sekolah/madrasah, kalau terjadi lagi stagnasi dalam memajukan institusi, mereka kerap terperangkap mengungkapkan masalah ini dengan mengungkit-ungkit kesalahan di pihak guru.

Parahnya terkadang disertai banyak ancaman, atau minimal sering memberi teguran berupa nota dinas, atau memo. Solusi mereka terfokus pada persoalan yang telah lewat, berorientasi pada masa lalu. Suka menghukum, suka panik, mencecar guru dengan banyak bertanya mengapa, sehingga jawaban-jawaban pun senantiasa bernuansa input negatif.

Alih-alih mengoreksi kesalahan guru dengan keteladanan, mereka malah terlalu suka memberikan petunjuk laiknya sang superior. Gejala ini pertanda bahwa kemampuan bawahan kurang dihargai. Tidak memberi keleluasaan bawahan berinisiatif atau berpikir mandiri. Akibatnya, energi banyak dihabiskan untuk mengatasi sendiri hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan oleh bawahan. Bawahan jadi malas berpikir memberi solusi setiap muncul permasalahan. Semua persoalan berat atau enteng, dan pekerjaan strategis akan selalu dikembalikan pada atasan mereka.

Tetapi tindakan bawahan yang demikian itu bukan tanpa alasan. Mereka melakukannya sebagai tindakan menyelamatkan diri, membuat tameng atas hukuman atau teguran yang akan dijatuhkan ke dirinya, jika terjadi kesalahan. Atau, ada juga bawahan yang suka mengadukan kekurangan teman sejawatnya alias tumbak cucukan melengkapi teknik lempar batu sembunyi tangan. Untuk itu, biasanya atasanlah yang dipaksa pontang-panting menyelesaikan masalah, biarpun persoalan yang dihadapi hanya sepele, dan cukup representatif seandainya diselesaikan sendiri oleh bawahan setingkat wali kelas, guru BK, atau wakasek.

Pengungkapan keadaan sekolah/madrasah sedemikian tidak patut seperti di atas, semoga tidak akan ditemui lagi oleh guru-guru pasca halal bi halal 1430 H. Para pihak pasti ingin segalanya menjadi lebih baik. Di mana semua orang baik atasan maupun bawahan adalah co-learners, menjadi rekan belajar. Ide-ide positif diakses oleh siapapun, tidak peduli siapa yang melahirkannya.

Mereka bekerja dalam suasana kesetaraan dan respek. Atasan memberikan contoh kepada semua warga sekolah/madrasah, cenderung mencari solusi, bukan membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan oleh siapapun. Karena berorientasi pada solusi, maka semua orang giat berkolaborasi, berefleksi, dan melakukan inovasi-inovasi. Boleh dikatakan jarang atau tidak pernah sama sekali kepala sekolah/madrasah memberikan teguran. Tetapi yang terdengar terus menerus adalah dorongan kepada bawahan guna mendapatkan reward atas prestasi-prestasinya.

Bukan berarti atasan dilarang memberi peringatan terhadap kesalahan yang dilakukan oleh bawahan. Namun, cara menangani bawahan yang salah akan jatuh pada nuansa memberi solusi bagaimana agar tak terulang lagi ketimbang menghakimi. Misalnya dalam menangani kasus guru yang sering terlambat. Kepala sekolah/madrasah yang bijak akan membuang jauh-jauh pertanyaan mengapa terlambat, dan mengganti dengan pertanyaan bagaimana saya bisa membantu memecahkan masalah keterlambatan Anda ini?

Pertanyaan seperti inilah yang lebih berorientasi ke masa depan, dan tidak mengandalkan tukar menukar kata maaf di acara halal bi halal Idul Fitri tahun yang akan datang. Jawaban oleh bawahan pun akan sejalan dengan tindakan nyata memecahkan masalah, tidak pernah bermaksud mempersulit orang lain, atau mencari-cari alasan demi mengingkari kesalahan.

*)Eddy Soejanto adalah pemerhati pendidikan.


LOKASI GEMPA TASIKMALAYA - Kabar tvOne - tvOne Memang Beda

LOKASI GEMPA TASIKMALAYA - Kabar tvOne - tvOne Memang Beda

Shared via AddThis

detikcom : Tasikmalaya Mendunia di Twitter

title : Tasikmalaya Mendunia di Twitter
summary : Sesaat setelah gempa 7,3 skala richter mengguncang, Jakarta dan Tasikmalaya langsung masuk di daftar topik paling populer di Twitter. Nama kedua kota di Indonesia itu pun mendunia di antara topik-topik dari berbagai belahan dunia lainnya . (read more)

Renungan di bulan Ramadhan



















Hari ini hari ke sepuluh di bulan Ramadhan..masih ada 19 hari lagi untuk kita manfaatkan sehingga kita dapat mengambil hikmah Ramadhan.


Nah ini ada rambu-rambu untuk kita renungkan sampai Ramadhan...... Semoga dapat menjadi semangat kita untuk beribadah.

Oh Manusia....??

Ini cerita atau tamsil mengenai kondisi kita sebagai manusia, Insya Allah ada hikmah/manfaatnyaTelah datang seorang bijak di hadapan rumah seorang lelaki. Orang bijak itu terkejut apabila mndapati lelaki itu sedang memukul seekor kucing. Orang bijak itu bertanya kpd lelaki tersebut ‘Kenapa kamu pukul kucing yg lemah ini??’ Jawab lelaki tersebut’ Aku telah menjumpainya di sebuah lorong ketika ia dalam keadaan yg tersangat lemah & kedinginan , kemudian aku mengambilnya & memberinya makanan serta minuman.Aku pelihara sehingga ia benar2 sehat, tetapi sesudah kucing itu sehat ,ia membuang najis/kotoran pada semua tempat di rumahku. Kemudian berkatalah si orang bijak : ‘Ini sebenarnya peringatan & tamsilan antara kita dgn Allah. Dia telah memelihara kita sejak dari kecil yg tersangat lemah & dhaif, lalu Allah beri kita makan, pakaian dan segala2nya tetapi setelah begitu banyak kebaikan dan nikmat Allah yg kita rasakan, kita durhaka kepadaNYA dan tidak melaksanakan perintahNYA dan belum ikut cara hidup kekasihnya yaitu Rasulullah . Lihatlah betapa baiknya dan rahmatnya Allah, walaupun kita durhaka kepadaNYA,Dia masih belum menyiksa atau memukul kita dgn azabNYA.’Kemudian pergilah orang bijak itu dan beristighfarlah lelaki tersebut krn mengenang dosa2nya terhdap Allah. Jika ia lambat diperingatkan oleh orang bijak itu, sudah tentu dipertanggungjawabkn atas kesalahannya di mahkamah Allah kelak krn telah mencoba menyiksa kucingnya……………

Inilah Muslim dan Muslimah Yang Pernah Menjelajah Ruang Angkasa


Pada tanggal 22 Juli 2009 yang lalu jutaan penduduk di belahan benua Asia, -khususnya yang berada di wilayah belahan India, Nepal, Myanmar, Bangladesh, Bhutan, dan China- telah menyaksikan fenomena alam yang sangat langka yaitu gerhana matahari total-. Peristiwa yang terjadi di luar angkasa ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan awam maupun ilmuwan. Siapa pun yang sempat menyaksikan peristiwa ini, dalam hati kecilnya mungkin terselip rasa kagum dan takjub atas peristiwa alam yang mungkin hanya bisa dinikmati sekali dalam sepanjang hidupnya ini. Bagaimana jika melihat bumi dan sekelilingnya dari luar angkasa? Inilah saudara-saudara kita, muslim dan muslimah, yang telah beruntung dapat menyaksikan bumi dari luar angkasa, yang tentunya menjadi pengalaman sangat berharga dan takkan terlupakan bagi mereka.

Muslim pertama yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa adalah Pangeran Sultan bin Salman AbdulAziz Al-Saud dari Arab Saudi. Pada tahun 1985, Al-Saud ikut bersama kru yang menjalankan misi ruang angkasa STS-S1G dengan menggunakan pesawat Discovery milik AS, untuk mengorbitkan satelit komunikasi ARABSAT 1-B. Dalam misi ini, Al-Saud bukan hanya menjadi Muslim pertama yang pergi ke ruang angkasa tapi juga menjadi anggota kerajaan Saudi pertama yang berhasil menjelajah ruang angkasa. Setelah menyelesaikan misinya, Al-Saud kemudian mendirikan organisasi non-profit Asosiasi Penjelajah Ruang Angkasa, sebagai wadah berkumpulnya para astronot dan kosmonot dari seluruh dunia. Al-Saud sendiri yang menjadi direktur asosiasi itu selama beberapa tahun.

Dua tahun setelah keberangkatan Al-Saudi, tepatnya pada bulan Juli 1987, Muslim asal Suriah bernama Mohammed Faris ikut dalam misi Soyuz TM-3 ke stasiun ruang angkasa Rusia, Mir. Mohammed Faris, anggota Angkatan Udara Suriah berpangkat kolonel itu, menjalankan misi penelitian ke Mir.

Lima bulan kemudian, Musa Manarov, seorang Muslim keturunan Azerbaijan yang berpangkat kolonel di Angkatan Udara Uni Sovyet juga berangkat ke luar angkasa dalam misi Soyuz TM-4 ke stasiun ruang angkasa Mir. Manarov bersama tim Soyuz TM-4, menjadi Muslim pertama yang tinggal di ruang angkasa selama satu tahun penuh. Ia kembali ke bumi pada Desember 1988. Musa Manarov kembali melakukan penjelajahan ke luar angkasa pada Desember 1990 dalam misi Soyuz TM-11. Kali ini ia tinggal selama satu tahun tiga bulan di ruang angkasa dan melakukan lebih dari 20 jam perjalanan, menjelajah ruang angkasa.

Muslim lainnya yang juga pernah menjalankan misi ke luar angkasa adalah Abdul Ahad Mohmand asal Afghanistan. Pilot Angkatan Udara Afghanistan itu ikut dalam misi Soyuz TM-6 pada bulan Agustus 1988 sebagai kosmonot yang melakukan riset selama delapan hari di Mir. Dalam misi ini, Mohmand bahkan menjadi pahlawan penyelamat bagi kru lainnya, ketika kapsul yang akan membawanya kembali ke bumi mengalami kendala saat akan memasuki atmosfir bumi.

Kurang dari 10 tahun setelah misi Mohamd, Muslim-muslim lainnya menyusul, mengikuti berbagai misi ke ruang angkasa. Antara lain Tokhtar Aubakirov dari Kazakhstan yang ikut dalam misi Soyuz TM-13 ke Mir tahun 1991. Kemudian tahun 1994, misi Soyuz TM-19 mengikutsertakan Talgat Musabayev, seorang Muslim yang juga asal Kazakhstan.

Jika perjalanan ruang angkasa selama bertahun-tahun didominasi oleh kaum lelaki Muslim, pada bulan September 2006, muslimah AS keturunan Iran, Anousheh Ansari berhasil mendobrak rekor menjadi muslimah pertama sekaligus turis pertama dalam program perjalanan ke ruang angkasa. Ansara melakukan “wisata ruang angkasa”nya dengan menggunakan Soyuz TM-9 yang menjadi bagian dari misi Expedition 14.

Pada bulan Oktober tahun 2007, seorang ahli bedah ortopedi dari Universiti Kebangsaan Malaysia bernama Muszaphar Shukor berhasil menembus atmosfir bumi bersama para astronot Rusia dalam peluncuran stasiun ruang angkasa Soyuz TMA-11. Shukor sukses menjalankan misi ruang angkasanya selama 11 hari dan kembali ke bumi pada 21 Oktober 2007, tepatnya di wilayah Kazakhstan pukul 10.43 waktu setempat.

Kapan giliran muslim Indonesia?

Sumber:

http://www.eramuslim.com/

http://Kompas.com

MasyaALLAH, TANPA Terasa RAMADHAN SUDAH DATANG, dan Waktu pun Terus berlalu, mari kita siapkan segala tenaga dan upaya, agar ramadhan nanti bisa optimal.

Raih Surgamu dengan Dzikir Setelah Sholat Subuh

 

Raih Surgamu dengan Dzikir Setelah Sholat Subuh

 Albarakatu fi bukuriha. Berkah itu ada pada waktu pagi.

Begitu kurang lebih arti pepatah yang kerap disebutkan di kalangan orang-orang Arab. Waktu pagi, memang menyimpan banyak keutamaan. Salah satunya adalah keutamaan zikir pagi yang dianjurkan oleh Islam. Kita diperintahkan oleh Allah untuk melakukan dzikir pagi dan sore. Allah swt berfirman, dalam surat Al Kahfi ayat 28, yang artinya, :

"Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang untuk mengharapkan keridhaan-Nya…”

Rasulullah juga banyak berbicara tentang keutamaan dzikir waktu pagi, yakni antara sholat subuh hingga terbitnya matahari, yang ditutup dengan sholat dhuha. Seseorang yng memelihara dzikir pada waktu itu akan memperoleh banyak manfaat. Berdasarkan hadits Rasulullah, dzikir di waktu pagi akan memberi keutamaan antara lain :

Pahalanya setara dengan pahala haji dan umrah, bila mereka tidak mampu menunaikan haji dan umrah

Dosa-dosanya diampuni meskipun dosa itu lebih banyak dari buih di laut.

Dimasukkan ke dalam surga dan jasadnya tidak tersentuh oleh api neraka.

Berikut adalah sejumlah hadits yang menerangkan keutamaan dzikir pagi:

Diriwayatkan oleh At Turmudzi, dan ia mengatakan ini adalah hadits hasan marfu’, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang sholat subuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, lalu ia sholat dua raka’at dhuha, maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah.” Rasulullah kemudian berkata: “Sempurna… sempurna….. sempurna…”

Dalam riwayat At Thabrani disebutkan, Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang sholat subuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir di tempatnya sampai matahari terbit setinggi tombak maka ia akan memperoleh kedudukan orang yang melakukan haji dan umrah secara sempurna.” Berkata Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah saw bila melakukan sholat subuh, ia tidak berdiri dari tempat duduknya sampai tiba waktu sholat dhuha.

Dalam riwayat Thabrani secara marfu’ disebutkan : “Barangsiapa yang sholat subuh berjamaah, kemudian ia diam di tempatnya sampai ia memuji Allah sampai tiba waktu dhuha, maka ia mendapat pahala haji dan umrah secara utuh. “

Dalam riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Abu Ya’la, secara marfu’ disebutkan : "Barangsiapa yang duduk di tempat sholatnya ketika ia selesai melakukan sholat subuh, kemudian ia memuji Allah dengan melakukan shalat dhuha, tidak berkata kecuali yang baik, maka ia akan diampuni dosanya, meskipun dosanya lebih banyak dari buih di laut."

Dalam riwayat Abu Ya’la disebutkan, dalam hadits di atas Rasulullah bersabda : (orang yang berdzikir setelah subuh hingga melakukan sholat dhuha) pasti akan mendapatkan surga.”

Dan dalam riwayat Ibnu Abi Dunia disebutkan secara marfu’ : “Barangsiapa yang sholat subuh kemudian berdzikir pada Allah sampai terbit matahari, maka tubuhnya tidak akan tersentuh oleh api neraka.”

Dalam riwayat Al Baihaqi hadits di atas ditambahkan dengan kalimat : “Barangsiapa yang sholat dua raka’at atau empat raka’at setelah terbitnya matahari”. (na/iol)

Apa Salahnya Menangis?

 Apa Salahnya Menangis? 

Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran. 

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup. 

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). 

Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka. 

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini. 

Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam. 

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83). 

Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya. 

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’: 145) 

Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82). 

Jadi apa salahnya menangis?. 


 


 

 

 


............IMPIAN ITU.....................

Impian itu tuk jalani bersama...walau kadang ku putus asa, sampai bila ku terus bermimpi?? yang siang masih terasa jauhnya...Impian kita masih sama.. menyatukan harapan yang indah tuk selalu berdua.. tapi kenyataan masih jauh terbentang... walau do'a selalu mengiring...walau keyakinan meneguhkan hati...kadang jauhmu membuatku ragu...akahkah kita ujudkan impian itu...Mungkin jua semua itu hanyalah kiasan di bibir indahmu.. tanpa kau sadari tlah mengukir luka di hati ku..Tiada kabar berita kau di sana.....senyumu membuatku penuh tanda tanya....adakah semua itu hanyalah ilusi di siang hari???atukah kau kan ujudkan impian itu..Menghitung hari ku kembali....masih terasa jauh hadirmu kembali..walau sejujurnya ku rindu tatapan mata dan hatimu.. yang lama menghilang.. tuk menyejukan hatiku yang sunyi.....walau kadang ku berkhayal kan kita mulai lagi awal yang dulu...indanya...taman cinta... deburan ombak batas pantai...sahdunya kidung nyanyian buaian...ku tahu hadirmu hanyalah sementara dalam mimpi indahku.....dan ku tak ingin terbangun agar ku tak kehilangan dirimu....agar kau selalu menggandeng tanganku.. berjalan menyusuri waktu........Pergimu menggoreskan luka yang teramat pelan.. hinggaku harus lari tinggalakan...walau selalu ku merindukan.....Kau tahu cinta suciku.. hingga ku ingin menjadi bagian dari hidup mu....tapi itu jauh sudah berlalu...ku sadari ku harus lari dari mimpimu..............Dirimu jua di sana membuatku ragu lagi.....kenapa ku mesti percaya...ah andai kau bicara sejujurnya dalam hatimu adan kau kan untukuu sampai akhir nanti...semalam dirimu membayangiku...ku mulai ragu... akankah keputusanmu itu........untuku...Seharusnya ku tak harus menunggumu....biarkan ku lupakan dirimu dalam hidupku.....terlalu pahit tuk di kenang.....terimakasih untuk saat - saat bersama dulu....

Kisah sedihku....

Akhirnya malem ini kau menghampiriku...Padahal jujur aku sediih banget dengan kehadiranmu disisiku..meski beberapa hari yang lalu..bahkan minggu yang lalu aku merindukanmu..tapi ach sudahlah...memang tak ada yang salah dengan kehadiranmu..mungkin aku shock..merasa tak siap..aku terdiam..tergugu dan menagis..Tapi kata Rhie...itu sunatullah syah...(masa)binun kayaknya bukan sunatullah dech rhie...(tapi diiyain ajach..)lebih tepatnya apa yach...hallah jawab ndiri..yang jelas isyah mo nangissssmulai besook..pagi gak bisa puasa hiks...moga masih ada sisa buatku cintamu disepuluh hari terakhir Ya Allah

Jeritan anak palestina.....

Ayah..! kata mereka kau penjahat

Padahal sebenarnya engkau bukan penjahat,

Ayah..! mengapa merka jauhkan aku darimu

Mereka menangkapmu tanpa memberi kesempatan

untuk menciumku meski hanya sekali

atau mengusap air mata Ibu

Ibu..!! Aku melihat air mata di kelopak matamu setiap pagi,

Apakah Palestina tidak berhak diberi pengorbanan..?

Setiap hari aku bertanya kepada matahari

Ibu, apakah ayah akan kembali pada suatu hari?

Ataukah dia akan pergi selamanya sampai hari Qiyamat

Atau dia akan mengusap air mata Ibu yang terus menetes setiap hari...??

Wahai Ayah, dimanakah engkau...??

Oooh....bayi-bayi yang dijajah,

Kini telah datang hari raya baru setelah hari raya tahun lalu

Dan bayi baru pun terlahir sesudah bayi yang itu

Dan para syuhada berguguran setelah gugurnya Syahid yang lalu

Sedang ayah masih disembunyikan di sebalik jeruji besi,

Dalam sel mengerikan yang tidak layak dihuni manusia

Mana hari kemenangan dan kehancuran penjara-penjara besi itu...??

Majulah kalian.....

Majulah kalian.....

Majulah kalian.....

Aku ingin Ayah pulang

------------


Hari-hari ini rakyat Palestina diserang dengan tanpa peri kemanusiaan di tanah air mereka sendiri. Rezim Zionis Israel secara terang-terangan mengeluarkan pengumuman untuk melakukan aksi teror terhadap para pemimpin Palestina terutama HAMAS.


Namun, apa salah anak-anak dan wanita? Bi ayyi dzanbin qutilat !!

Kenangan manis