Halal bi halal. Acara terfavorit di Idul Fitri selepas Ramadhan, tak terkecuali bagi para guru sebagai bawahan dan kepala sekolah/madrasah atasan mereka. Dengan perhelatan tersebut, mereka berkesempatan saling memaafkan dan bersilaturahmi selayaknya sesama keluarga. Sehingga diharapkan perolehannya berupa kembalinya masing-masing individu ke fitrah. Kembali kosong-kosong.
Namun setelah ini apa? Tentunya tak sekadar menukar khilaf dengan maaf lalu selesai. Terutama setelah masing-masing melakukan introspeksi tentang hal-hal tidak patut apa yang dilakukan. Dan mampu memahami hal-hal apa yang membuat segalanya menjadi lebih baik.
Pastinya yang diinginkan oleh para guru dan kepala sekolah/madrasah ke depan nanti adalah pulihnya kinerja mereka. Ini berarti segala sesuatu berjalan sesuai dengan komitmen atas kemajuan dan prestasi. Tapi sering dilupakan, bahwa untuk mewujudkannya justeru faktor kepemimpinan kepala sekolah/madrasah yang akan teruji lebih keras. Bagaimana tidak?
Cobalah diingat-ingat kembali, walaupun telah bertukar maaf dengan khilaf, tanpa disadari oleh para kepala sekolah/madrasah, kalau terjadi lagi stagnasi dalam memajukan institusi, mereka kerap terperangkap mengungkapkan masalah ini dengan mengungkit-ungkit kesalahan di pihak guru.
Parahnya terkadang disertai banyak ancaman, atau minimal sering memberi teguran berupa nota dinas, atau memo. Solusi mereka terfokus pada persoalan yang telah lewat, berorientasi pada masa lalu. Suka menghukum, suka panik, mencecar guru dengan banyak bertanya mengapa, sehingga jawaban-jawaban pun senantiasa bernuansa input negatif.
Alih-alih mengoreksi kesalahan guru dengan keteladanan, mereka malah terlalu suka memberikan petunjuk laiknya sang superior. Gejala ini pertanda bahwa kemampuan bawahan kurang dihargai. Tidak memberi keleluasaan bawahan berinisiatif atau berpikir mandiri. Akibatnya, energi banyak dihabiskan untuk mengatasi sendiri hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan oleh bawahan. Bawahan jadi malas berpikir memberi solusi setiap muncul permasalahan. Semua persoalan berat atau enteng, dan pekerjaan strategis akan selalu dikembalikan pada atasan mereka.
Tetapi tindakan bawahan yang demikian itu bukan tanpa alasan. Mereka melakukannya sebagai tindakan menyelamatkan diri, membuat tameng atas hukuman atau teguran yang akan dijatuhkan ke dirinya, jika terjadi kesalahan. Atau, ada juga bawahan yang suka mengadukan kekurangan teman sejawatnya alias tumbak cucukan melengkapi teknik lempar batu sembunyi tangan. Untuk itu, biasanya atasanlah yang dipaksa pontang-panting menyelesaikan masalah, biarpun persoalan yang dihadapi hanya sepele, dan cukup representatif seandainya diselesaikan sendiri oleh bawahan setingkat wali kelas, guru BK, atau wakasek.
Pengungkapan keadaan sekolah/madrasah sedemikian tidak patut seperti di atas, semoga tidak akan ditemui lagi oleh guru-guru pasca halal bi halal 1430 H. Para pihak pasti ingin segalanya menjadi lebih baik. Di mana semua orang baik atasan maupun bawahan adalah co-learners, menjadi rekan belajar. Ide-ide positif diakses oleh siapapun, tidak peduli siapa yang melahirkannya.
Mereka bekerja dalam suasana kesetaraan dan respek. Atasan memberikan contoh kepada semua warga sekolah/madrasah, cenderung mencari solusi, bukan membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan oleh siapapun. Karena berorientasi pada solusi, maka semua orang giat berkolaborasi, berefleksi, dan melakukan inovasi-inovasi. Boleh dikatakan jarang atau tidak pernah sama sekali kepala sekolah/madrasah memberikan teguran. Tetapi yang terdengar terus menerus adalah dorongan kepada bawahan guna mendapatkan reward atas prestasi-prestasinya.
Bukan berarti atasan dilarang memberi peringatan terhadap kesalahan yang dilakukan oleh bawahan. Namun, cara menangani bawahan yang salah akan jatuh pada nuansa memberi solusi bagaimana agar tak terulang lagi ketimbang menghakimi. Misalnya dalam menangani kasus guru yang sering terlambat. Kepala sekolah/madrasah yang bijak akan membuang jauh-jauh pertanyaan mengapa terlambat, dan mengganti dengan pertanyaan bagaimana saya bisa membantu memecahkan masalah keterlambatan Anda ini?
Pertanyaan seperti inilah yang lebih berorientasi ke masa depan, dan tidak mengandalkan tukar menukar kata maaf di acara halal bi halal Idul Fitri tahun yang akan datang. Jawaban oleh bawahan pun akan sejalan dengan tindakan nyata memecahkan masalah, tidak pernah bermaksud mempersulit orang lain, atau mencari-cari alasan demi mengingkari kesalahan.
*)Eddy Soejanto adalah pemerhati pendidikan.
Namun setelah ini apa? Tentunya tak sekadar menukar khilaf dengan maaf lalu selesai. Terutama setelah masing-masing melakukan introspeksi tentang hal-hal tidak patut apa yang dilakukan. Dan mampu memahami hal-hal apa yang membuat segalanya menjadi lebih baik.
Pastinya yang diinginkan oleh para guru dan kepala sekolah/madrasah ke depan nanti adalah pulihnya kinerja mereka. Ini berarti segala sesuatu berjalan sesuai dengan komitmen atas kemajuan dan prestasi. Tapi sering dilupakan, bahwa untuk mewujudkannya justeru faktor kepemimpinan kepala sekolah/madrasah yang akan teruji lebih keras. Bagaimana tidak?
Cobalah diingat-ingat kembali, walaupun telah bertukar maaf dengan khilaf, tanpa disadari oleh para kepala sekolah/madrasah, kalau terjadi lagi stagnasi dalam memajukan institusi, mereka kerap terperangkap mengungkapkan masalah ini dengan mengungkit-ungkit kesalahan di pihak guru.
Parahnya terkadang disertai banyak ancaman, atau minimal sering memberi teguran berupa nota dinas, atau memo. Solusi mereka terfokus pada persoalan yang telah lewat, berorientasi pada masa lalu. Suka menghukum, suka panik, mencecar guru dengan banyak bertanya mengapa, sehingga jawaban-jawaban pun senantiasa bernuansa input negatif.
Alih-alih mengoreksi kesalahan guru dengan keteladanan, mereka malah terlalu suka memberikan petunjuk laiknya sang superior. Gejala ini pertanda bahwa kemampuan bawahan kurang dihargai. Tidak memberi keleluasaan bawahan berinisiatif atau berpikir mandiri. Akibatnya, energi banyak dihabiskan untuk mengatasi sendiri hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan oleh bawahan. Bawahan jadi malas berpikir memberi solusi setiap muncul permasalahan. Semua persoalan berat atau enteng, dan pekerjaan strategis akan selalu dikembalikan pada atasan mereka.
Tetapi tindakan bawahan yang demikian itu bukan tanpa alasan. Mereka melakukannya sebagai tindakan menyelamatkan diri, membuat tameng atas hukuman atau teguran yang akan dijatuhkan ke dirinya, jika terjadi kesalahan. Atau, ada juga bawahan yang suka mengadukan kekurangan teman sejawatnya alias tumbak cucukan melengkapi teknik lempar batu sembunyi tangan. Untuk itu, biasanya atasanlah yang dipaksa pontang-panting menyelesaikan masalah, biarpun persoalan yang dihadapi hanya sepele, dan cukup representatif seandainya diselesaikan sendiri oleh bawahan setingkat wali kelas, guru BK, atau wakasek.
Pengungkapan keadaan sekolah/madrasah sedemikian tidak patut seperti di atas, semoga tidak akan ditemui lagi oleh guru-guru pasca halal bi halal 1430 H. Para pihak pasti ingin segalanya menjadi lebih baik. Di mana semua orang baik atasan maupun bawahan adalah co-learners, menjadi rekan belajar. Ide-ide positif diakses oleh siapapun, tidak peduli siapa yang melahirkannya.
Mereka bekerja dalam suasana kesetaraan dan respek. Atasan memberikan contoh kepada semua warga sekolah/madrasah, cenderung mencari solusi, bukan membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan oleh siapapun. Karena berorientasi pada solusi, maka semua orang giat berkolaborasi, berefleksi, dan melakukan inovasi-inovasi. Boleh dikatakan jarang atau tidak pernah sama sekali kepala sekolah/madrasah memberikan teguran. Tetapi yang terdengar terus menerus adalah dorongan kepada bawahan guna mendapatkan reward atas prestasi-prestasinya.
Bukan berarti atasan dilarang memberi peringatan terhadap kesalahan yang dilakukan oleh bawahan. Namun, cara menangani bawahan yang salah akan jatuh pada nuansa memberi solusi bagaimana agar tak terulang lagi ketimbang menghakimi. Misalnya dalam menangani kasus guru yang sering terlambat. Kepala sekolah/madrasah yang bijak akan membuang jauh-jauh pertanyaan mengapa terlambat, dan mengganti dengan pertanyaan bagaimana saya bisa membantu memecahkan masalah keterlambatan Anda ini?
Pertanyaan seperti inilah yang lebih berorientasi ke masa depan, dan tidak mengandalkan tukar menukar kata maaf di acara halal bi halal Idul Fitri tahun yang akan datang. Jawaban oleh bawahan pun akan sejalan dengan tindakan nyata memecahkan masalah, tidak pernah bermaksud mempersulit orang lain, atau mencari-cari alasan demi mengingkari kesalahan.
*)Eddy Soejanto adalah pemerhati pendidikan.
0 komentar:
Posting Komentar